Birds Of Prey (2020) (4/5)
Birds Of Prey (2020) (4/5) - Hallo sahabat nurchocolatey, Pada Artikel yang anda baca kali ini dengan judul Birds Of Prey (2020) (4/5), kami telah mempersiapkan artikel ini dengan baik untuk anda baca dan ambil informasi didalamnya. mudah-mudahan isi postingan
Artikel 2020,
Artikel action,
Artikel adventure,
Artikel superhero, yang kami tulis ini dapat anda pahami. baiklah, selamat membaca.
Judul : Birds Of Prey (2020) (4/5)
link : Birds Of Prey (2020) (4/5)
Directed by Cathy Yan ; Produced by Margot Robbie, Bryan Unkeless, Sue Kroll ; Written by Christina Hodson ; Based on Birds of Prey by Jordan B. Gorfinkel, Chuck Dixon ; Harley Quinn by Paul Dini, Bruce Timm ; Starring Margot Robbie, Mary Elizabeth Winstead, Jurnee Smollett-Bell, Rosie Perez, Chris Messina, Ella Jay Basco, Ali Wong, Ewan McGregor ; Music by Daniel Pemberton ; Cinematography Matthew Libatique ; Edited by Jay Cassidy, Evan Schiff ; Production company DC Films, LuckyChap Entertainment, Kroll & Co. Entertainment, Clubhouse Pictures ; Distributed by Warner Bros. Pictures ; Release date February 7, 2020 (United States) ; Running time 109 minutes ; Country United States ; Language English ; Budget $84.5 million
Anda sekarang membaca artikel Birds Of Prey (2020) (4/5) dengan alamat link https://nurchocolatey.blogspot.com/2018/07/birds-of-prey-2020-45.html
Judul : Birds Of Prey (2020) (4/5)
link : Birds Of Prey (2020) (4/5)
Birds Of Prey (2020) (4/5)
RottenTomatoes: 81% | IMDb : 6,8/10 | Metascore: 60/100 | NikenBicaraFilm: 4/5
Rated: R
Genre: Action, Adventure
Directed by Cathy Yan ; Produced by Margot Robbie, Bryan Unkeless, Sue Kroll ; Written by Christina Hodson ; Based on Birds of Prey by Jordan B. Gorfinkel, Chuck Dixon ; Harley Quinn by Paul Dini, Bruce Timm ; Starring Margot Robbie, Mary Elizabeth Winstead, Jurnee Smollett-Bell, Rosie Perez, Chris Messina, Ella Jay Basco, Ali Wong, Ewan McGregor ; Music by Daniel Pemberton ; Cinematography Matthew Libatique ; Edited by Jay Cassidy, Evan Schiff ; Production company DC Films, LuckyChap Entertainment, Kroll & Co. Entertainment, Clubhouse Pictures ; Distributed by Warner Bros. Pictures ; Release date February 7, 2020 (United States) ; Running time 109 minutes ; Country United States ; Language English ; Budget $84.5 million
Story / Cerita / Sinopsis :
Selepas putus dengan kekasihnya, Joker, atau yang biasa ia panggil Pudding / Mr. J, Harley Quinn (Margot Robbie) harus berhadapan dengan seisi kota yang sekarang mengincarnya. Termasuk di antaranya yaitu bos berandal Roman Sionis (Ewan McGregor).
Review / Resensi :
Belakangan Hollywood memang lagi gencar-gencarnya memproduksi film-film bertemakan girl power, walau ya harus diakui tidak semua filmnya sukses dan diterima dengan baik (contoh: female version of Ghostbusters dan new Charlie's Angels). Tahun 2020 ini sepertinya yaitu tahun para perempuan alasannya yaitu film-film terkenal yang mengusung semangat ini akan banyak bermunculan, sebut saja live-action Mulan, Black Widow, dan WW 1984. Birds of Prey (and The Fantabulous Emancipation of One Harley Quinn) yang disutradarai oleh sutradara perempuan berdarah Asia Cathy Yan menjadi film pembuka yang rilis di awal Februari ini, dan kemudian memunculkan dua kubu: mereka yang suka dan mereka yang tidak suka. Saya sebetulnya ingin tau alasannya yaitu beberapa reviewer yang saya ikuti di twitter dan facebook menyampaikan bahwa Birds of Prey cukup mengecewakan, tapi kemudian saya lihat skor awal di Rotten Tomatoes cukup baik hingga mencapai 89% (sebelum karenanya turun lagi menjadi 82% ketika saya menulis review ini). Dan ketika saya menontonnya sendiri, ternyata saya cukup menyukai film ini. Walau tidak sempurna, Birds of Prey yaitu tipikal film yang fun, ringan, penuh keceriaan, dan tetap menyenangkan untuk disaksikan berulang kali.
Salah satu kekurangan besar film ini yang kemudian diprotes oleh para fansnya yaitu alasannya yaitu film ini terlalu fokus pada sosok Harley Quinn (Margot Robbie), sementara judulnya sendiri Birds of Prey - yang merupakan kumpulan jagoan cewek DC. Karakter-karakter lain menyerupai Black Canary/Dina Lance (Jurnee Smollet-Bell), Renee Montoya (Rosie Perez) dan Huntress (Marie Elizabeth Winstead) seolah-olah hanya hadir sekedar menjadi suplemen dalam kisah Harley Quinn. Ga salah sih emang, dari trailernya dan marketing, film ini memang menonjolkan Harley Quinn sebagai tokoh utama dalam film ini. DC dan WB sepertinya tahu bahwa pesona Harley Quinn layak dimanfaatkan sesudah pertama kali muncul di Suicide Squad (dan satu-satunya hal paling menarik dalam film tersebut). Margot Robbie bahkan yang menjadi produser utama film ini sendiri. Walau banyak yang protes, saya sih ga mempermasalahkan sama sekali alasannya yaitu saya bukan penggemar komiknya. Malah saya cenderung menyukai proses pendekatan yang dilakukan Birds of Prey dalam menghadirkan dan menyatukan karakter-karakter tersebut di film ini.
Suicide Squad dan Justice League yaitu pola produk gagal DCEU yang salah satu alasan kegagalannya (menurut saya) yaitu proses menyatukan karakter-karakter yang ada. Justice League gagal alasannya yaitu mereka gagap dalam memperkenalkan abjad gres menyerupai Flash dan Cyborg (dan juga Aquaman), kemudian menyatukan superhero itu dalam satu tim dengan Batman, Wonder Woman dan Superman (yang masih perlu dibangkitkan dari kubur) dengan misi akbar menyelamatkan dunia. Sedangkan Suicide Squad tampak kewalahan menyatukan bagaimana seharusnya antihero (atau villain?) bersatu. Sementara itu, pada Birds of Prey, uniknya justru gres menyatukan para jagoannya dalam paruh tamat filmnya - berkat Harley Quinn, dalam sebuah kebetulan. Makara lebih tepatnya ini dapat dibilang bagaimana Harley Quinn tidak sengajat membentuk Birds of Prey. Dan itulah mengapa, sepertinya banyak orang akan merasa naskah film ini sedikit berserakan dan kurang berpengaruh dalam mengenalkan karakter-karakter lain yang menjadi anggota Birds of Prey. Tapi, berdasarkan saya setiap abjad masih punya karakterisasi dan latar belakang yang cukup baik, sehingga biarpun screentime-nya ga sebanyak Harley Quinn, tapi masih punya daya tarik yang menarik (walau harusnya masih dapat digali lebih dalam lagi).
Menonton Birds of Prey seperti diajak masuk ke jalan pikiran Harley Quinn yang chaotic. Ia mungkin akan mengingatkanmu pada mitra perempuanmu yang berisik tapi selalu punya kisah seru, penuh percaya diri, genit, dan sedikit gila. Narasi Birds of Prey memang sedikit melompat-lompat, menyerupai kau tengah mendengarkan seseorang bercerita dengan penuh semangat tapi saking semangatnya ceritanya tidak runtut dan membingungkan. Tapi itu semua sepadan dengan keseruan yang diceritakannya, dan sekali lagi, kita dapat memaklumi alasannya yaitu teman perempuan kita ini memang sedikit gila. Saya juga menyukai seluruh tone yang dihadirkan Birds of Prey: beneran mencirikan seorang Harley Quinn. Scoring music yang berisik tapi asyik, visual eye-candy yang ramai dan penuh warna, hingga action scene yang ceria. Kabarnya action scene-nya dibantu oleh kru yang ngegarap John Wick, dan menghasilkan action scene didominasi pertarungan tangan yang tidak mengecewakan asyik. Harley Quinn tampil kolam pemain sirkus yang penuh gerakan akrobatik dengan senjata sederhana semacam tongkat kasti, atau sambil bermain sepatu roda. Yaaaahh.. memang enggak hingga sekeren John Wick sih, tapi saya suka action scenenya yang cukup bermacam-macam dan berbeda-beda, menyerupai pesta penuh konfetti kala Harley Quinn menyerbu kantor polisi, atau pertarungan tamat di taman bermain. Saya juga cukup menyukai bahwa Birds of Prey dengan rated R-nya cukup berakal memainkan abjad Harley Quinn sebagai seorang antihero (atau sebuah transisi dari villain menjadi antihero). Ia melawan Roman Sionis bukan sama sekali dengan misi baik hati hendak menyelamatkan Gotham City, tapi ya murni alasannya yaitu terpaksa (karena kalau tidak ia sendiri yang akan celaka). Btw, saya menyukai vibe Birds of Prey secara keseluruhan, sehingga jikalau vibe ini dibawa kembali di The Suicide Squad-nya James Gunn, saya sama sekali nggak keberatan.
Dengan subjudul "emancipation", menarik bahwa sebagian fanboy pribadi antipati dan salah paham. Bahkan saya baca seorang netijen menyebut bahwa ia sama sekali tidak menangkap esensi emansipasi yang dimaksud dari Birds of Prey, dan sebagiannya lagi menganggap tema ini maksa. Errrrr... saya tidak tahu apa memang ada gap pengetahuan antara lelaki dan perempuan sehingga menyebabkan evaluasi sedemikian berbedanya. Ah, entahlah, saya memang sedikit sensitif dengan info ini (tidak ada yang lebih menyebalkan daripada fanboy-fanboy sok edgy yang anti SJW dan membenci Brie Larson tanpa benar-benar paham apa yang sebetulnya terjadi). Saya rasa sudah cukup terperinci Birds of Prey ini membawa info "bebas dari toxic relationship". Harley Quinn, ingin menandakan diri bahwa selepas dari toxic relationship-nya dengan Joker, ia dapat melindungi dirinya sendiri dan tidak perlu tergantung lagi pada mantan kekasihnya. Karakter Montoya juga menggambarkan itu, tak gampang menjadi detektif perempuan di lingkungan kerja maskulin menyerupai kepolisian, dan ia memutuskannya di bab akhir: ia tidak butuh akreditasi dari lelaki. Saya rasa tema ini juga ditampilkan secara halus dan ga maksa (at least ga semaksa adegan perempuan-perempuan superhero Marvel ngumpul secara kebetulan yang janggal di adegan pertarungan tamat Avengers: Endgame). But hey, apakah sebagian penonton laki-laki sepertinya masih menyukai abjad perempuan tangguh (dan bagus dan seksi) yang masih butuh kontribusi lelaki dan kalo dapat ga ngalahin maskulinitas lelakinya?? (anyway, fun fact, entah nyambung atau enggak, ada penelitian yang menyampaikan bahwa ada kecenderungan lelaki mengakui mengagumi perempuan yang lebih cerdas, tapi dalam "jarak jauh". Artinya, ia dan tidak ingin menjadikannya sebagai pasangan. Artinya lagi, lelaki suka dengan perempuan pintar, tapi kalo dapat tidak lebih pandai darinya).
Pada akhirnya, Birds of Prey bukan tanpa kekurangan. Sebagian orang mengeluhkan villain yang begitu gampang untuk dikalahkan. Saya sebetulnya menyukai abjad Roman Sionis / Black Mask (Ewan McGregor) di sini, dan hubungannya dengan Victor Zsasc (Chris Messina). Saya rasa Birds of Prey yang naskahnya ditulis oleh Christina Hodson ini ingin menyampaikan keduanya sebagai male chauvinist (ingat adegan ketika Sionis memaksa seorang perempuan melepas gaunnya?) - terlepas bahwa Sionis sendiri sedikit feminim dan kemungkinan punya kekerabatan Istimewa dengan Zsasc. Tapi ya memang adegan karenanya sedikit antiklimaks. Saya tahu Black Mask disini lebih ke arah bos berandal daripada punya kekuatan sendiri, tapi seenggaknya kita butuh adegan intens yang lebih seru di bab akhirnya. Selain itu, biarpun filmnya memang fun untuk ditonton, tapi ya memang sebatas fun itu saja... Selepas beberapa hari sesudah menonton film ini, saya menyadari bahwa Birds of Prey bukanlah film yang cukup memorable..
Menonton Birds of Prey seperti diajak masuk ke jalan pikiran Harley Quinn yang chaotic. Ia mungkin akan mengingatkanmu pada mitra perempuanmu yang berisik tapi selalu punya kisah seru, penuh percaya diri, genit, dan sedikit gila. Narasi Birds of Prey memang sedikit melompat-lompat, menyerupai kau tengah mendengarkan seseorang bercerita dengan penuh semangat tapi saking semangatnya ceritanya tidak runtut dan membingungkan. Tapi itu semua sepadan dengan keseruan yang diceritakannya, dan sekali lagi, kita dapat memaklumi alasannya yaitu teman perempuan kita ini memang sedikit gila. Saya juga menyukai seluruh tone yang dihadirkan Birds of Prey: beneran mencirikan seorang Harley Quinn. Scoring music yang berisik tapi asyik, visual eye-candy yang ramai dan penuh warna, hingga action scene yang ceria. Kabarnya action scene-nya dibantu oleh kru yang ngegarap John Wick, dan menghasilkan action scene didominasi pertarungan tangan yang tidak mengecewakan asyik. Harley Quinn tampil kolam pemain sirkus yang penuh gerakan akrobatik dengan senjata sederhana semacam tongkat kasti, atau sambil bermain sepatu roda. Yaaaahh.. memang enggak hingga sekeren John Wick sih, tapi saya suka action scenenya yang cukup bermacam-macam dan berbeda-beda, menyerupai pesta penuh konfetti kala Harley Quinn menyerbu kantor polisi, atau pertarungan tamat di taman bermain. Saya juga cukup menyukai bahwa Birds of Prey dengan rated R-nya cukup berakal memainkan abjad Harley Quinn sebagai seorang antihero (atau sebuah transisi dari villain menjadi antihero). Ia melawan Roman Sionis bukan sama sekali dengan misi baik hati hendak menyelamatkan Gotham City, tapi ya murni alasannya yaitu terpaksa (karena kalau tidak ia sendiri yang akan celaka). Btw, saya menyukai vibe Birds of Prey secara keseluruhan, sehingga jikalau vibe ini dibawa kembali di The Suicide Squad-nya James Gunn, saya sama sekali nggak keberatan.
Dengan subjudul "emancipation", menarik bahwa sebagian fanboy pribadi antipati dan salah paham. Bahkan saya baca seorang netijen menyebut bahwa ia sama sekali tidak menangkap esensi emansipasi yang dimaksud dari Birds of Prey, dan sebagiannya lagi menganggap tema ini maksa. Errrrr... saya tidak tahu apa memang ada gap pengetahuan antara lelaki dan perempuan sehingga menyebabkan evaluasi sedemikian berbedanya. Ah, entahlah, saya memang sedikit sensitif dengan info ini (tidak ada yang lebih menyebalkan daripada fanboy-fanboy sok edgy yang anti SJW dan membenci Brie Larson tanpa benar-benar paham apa yang sebetulnya terjadi). Saya rasa sudah cukup terperinci Birds of Prey ini membawa info "bebas dari toxic relationship". Harley Quinn, ingin menandakan diri bahwa selepas dari toxic relationship-nya dengan Joker, ia dapat melindungi dirinya sendiri dan tidak perlu tergantung lagi pada mantan kekasihnya. Karakter Montoya juga menggambarkan itu, tak gampang menjadi detektif perempuan di lingkungan kerja maskulin menyerupai kepolisian, dan ia memutuskannya di bab akhir: ia tidak butuh akreditasi dari lelaki. Saya rasa tema ini juga ditampilkan secara halus dan ga maksa (at least ga semaksa adegan perempuan-perempuan superhero Marvel ngumpul secara kebetulan yang janggal di adegan pertarungan tamat Avengers: Endgame). But hey, apakah sebagian penonton laki-laki sepertinya masih menyukai abjad perempuan tangguh (dan bagus dan seksi) yang masih butuh kontribusi lelaki dan kalo dapat ga ngalahin maskulinitas lelakinya?? (anyway, fun fact, entah nyambung atau enggak, ada penelitian yang menyampaikan bahwa ada kecenderungan lelaki mengakui mengagumi perempuan yang lebih cerdas, tapi dalam "jarak jauh". Artinya, ia dan tidak ingin menjadikannya sebagai pasangan. Artinya lagi, lelaki suka dengan perempuan pintar, tapi kalo dapat tidak lebih pandai darinya).
Pada akhirnya, Birds of Prey bukan tanpa kekurangan. Sebagian orang mengeluhkan villain yang begitu gampang untuk dikalahkan. Saya sebetulnya menyukai abjad Roman Sionis / Black Mask (Ewan McGregor) di sini, dan hubungannya dengan Victor Zsasc (Chris Messina). Saya rasa Birds of Prey yang naskahnya ditulis oleh Christina Hodson ini ingin menyampaikan keduanya sebagai male chauvinist (ingat adegan ketika Sionis memaksa seorang perempuan melepas gaunnya?) - terlepas bahwa Sionis sendiri sedikit feminim dan kemungkinan punya kekerabatan Istimewa dengan Zsasc. Tapi ya memang adegan karenanya sedikit antiklimaks. Saya tahu Black Mask disini lebih ke arah bos berandal daripada punya kekuatan sendiri, tapi seenggaknya kita butuh adegan intens yang lebih seru di bab akhirnya. Selain itu, biarpun filmnya memang fun untuk ditonton, tapi ya memang sebatas fun itu saja... Selepas beberapa hari sesudah menonton film ini, saya menyadari bahwa Birds of Prey bukanlah film yang cukup memorable..
Demikianlah Artikel Birds Of Prey (2020) (4/5)
Sekianlah artikel Birds Of Prey (2020) (4/5) kali ini, mudah-mudahan bisa memberi manfaat untuk anda semua. baiklah, sampai jumpa di postingan artikel lainnya.
Anda sekarang membaca artikel Birds Of Prey (2020) (4/5) dengan alamat link https://nurchocolatey.blogspot.com/2018/07/birds-of-prey-2020-45.html

0 Response to "Birds Of Prey (2020) (4/5)"
Post a Comment