Review : Joker (2019) (3,5/5)

Review : Joker (2019) (3,5/5) - Hallo sahabat nurchocolatey, Pada Artikel yang anda baca kali ini dengan judul Review : Joker (2019) (3,5/5), kami telah mempersiapkan artikel ini dengan baik untuk anda baca dan ambil informasi didalamnya. mudah-mudahan isi postingan Artikel 2019, Artikel action, Artikel drama, Artikel thriller, yang kami tulis ini dapat anda pahami. baiklah, selamat membaca.

Judul : Review : Joker (2019) (3,5/5)
link : Review : Joker (2019) (3,5/5)

Baca juga


Review : Joker (2019) (3,5/5)


Telat nonton dan telat review, kebiasaan saya. Sebenarnya saya udah beli tiket hari pertama sih, tapi harus batal sebab satu kejadian dan karenanya gres sanggup nonton satu ahad kemudian. Berhubung saya termasuk telat bikin reviewnya, dan saya yakin kau sudah baca banyak review dari yang lain, maka saya ga bakal ngereview yang sama dengan yang lain... semoga ga rugi gitu kau baca review saya. Udah capek-capek baca terus reviewnya sama kayak orang lain kan ga seru. Hoho. Makara saya ga bakal ngomongin soal betapa luar biasanya penampilan Joaquin Phoenix, atau scoring music, soundtrack, dan sinematografi yang menawan, atau bahwa Joker ini sedikit-banyak terinspirasi dari film-film Scorsese.. Kamu niscaya udah tahu itu semua, dan saya ga ingin bikin kau bosan.

Sebelumnya, saya pengen ngasih tahu dulu. Pertama, saya ga pernah ngeklaim saya obyektif dalam menilai film, semua review di sini suka-suka saya dan sifatnya personal, jadi tentu saja sangat subyektif. Kedua, mungkin kau akan menyebut saya mengagumi value yang biasa didengungkan para SJW (Social Justice Warrior, bukan Sobat Jokowi Wiranto) - walau entah apakah ini ada hubungannya dengan review saya di sini. Dan ketiga, saya cukup menggemari film-film MCU dan supporter MCU garis keras (walau tentu saja saya menyukai film-film superhero lainnya, selama filmnya berdasarkan saya bagus). Keempat, dan ini mungkin yang paling penting, saya agak gerah dengan pemujaan berlebihan terhadap film Joker. Lebay aja gitu! Entahlah, mungkin timeline sosmed saya aja lebih mayoritas mereka-mereka yang haters MCU kalik ya.. jadi saya ngeliat fans Joker ini sama noraknya dengan bagaimana haters MCU melihat fans MCU. Haha. Jadi, saya akui, keempat hal itu sepertinya sanggup jadi sedikit mengaburkan gimana evaluasi saya soal film Joker

JOKER YANG BERMAIN AMAN?


Sejak mendengar pertama kali kabar Joker, musuh turun-temurun Batman dan tokoh villain paling dipuja, akan dibuatkan film solonya, saya bertanya-tanya: bagaimana cara menciptakan sebuah film dengan orang jahat sebagai tokoh utamanya? Hal ini kemudian sepertinya menciptakan publik khawatir: apakah Joker yakni sebuah film yang dianggap berbahaya sebab akan menginspirasi orang untuk berbuat kejahatan? Jangan salah, publik di Amerika Serikat punya alasan untuk merasa cemas berlebihan, terlebih lagi pernah ada kejadian penembakan dikala pemutaran The Dark Knight Rises di Aurora, Colorado pada tahun 2012, atau penembakan-penembakan lainnya yang pelakunya terindentifikasi sebagai incels. Publikpun parno apakah Joker akan dianggap sebagai sebuah simbol "incels". Dan berikutnya hal ini melahirkan diskusi menarik: apakah sebuah film sanggup memicu orang berbuat jahat? Hmmmmm.. dan sepertinya diskusi ini lebih seru daripada film Joker ini sendiri. Harus saya bilang: Joker, mungkin bukan film yang ditakutkan banyak pihak. Kita sanggup bernafas lega soal itu, tapi di lain sisi saya sih merasa Joker bermain dengan cara kelewat aman, kurang berani dan kurang menantang.

Harusnya saya sudah menerka ini dari awal. Film ini adalah origins seorang villain yang nantinya akan jadi seorang maniak, psycho, dan agent of chaos. Lalu bagaimana menjadikan tokoh semacam ini menjadi protagonis? Bagaimana moral compass penonton dimainkan untuk sanggup ngerasa related dan nge-root dengan huruf utama semacam ini? Dan jangan lupa, Joker ini yakni sebuah mass entertainment yang dimaksudkan menjadi sebuah blockbuster movie. Maka, film ini dihentikan terlalu "liar". Harus bergerak di area "abu-abu" (atau cenderung ke putih?) - bagaimanapun juga ini film ihwal villain, tapi cukup kondusif hingga penonton masih sanggup mendukung seluruh perjalanan dan keputusan yang dilakukan oleh sang tokoh utama. Inilah pendekatan yang dipilih Todd Phillips lewat dongeng Arthur Fleck (Joaquin Phoenix). 

Orang jahat yakni orang baik yang tersakiti. Saya ga tahu kalimat ini muncul dari mana, dan saya tahu mungkin kau muak mendengar kalimat ini, tapi sepertinya kalimat itu cukup merepresentasikan huruf Joker dan perjalanan hidupnya. Arthur Fleck yakni seorang narsistik yang bermimpi sanggup jadi komedian, tanpa ia sadar bahwa ia ga lucu (dia harusnya mencari opsi pekerjaan lain). Dia terjebak di sebuah flat kumuh, di kota yang kacau, hidup berdua dengan ibunya yang delusional. Seakan hidupnya belum cukup suram, ia juga menderita sindrom yang membuatnya tertawa tidak terkendali. Hidupnya yakni sebuah tragedi: ia menderita mental illness, kerap dibully dikala bekerja, hingga dikhianati rekan kerjanya. Semua kemelasan hidupnya yakni alasan yang menciptakan kita bersimpati terhadap karakternya, sehingga ga susah buat penonton untuk pada saatnya "membenarkan" sikap kriminalnya. Bagi saya, ini yakni pendekatan yang agak klise dan kurang menantang penonton. Seenggaknya bagi saya yang udah berekspektasi film ini sanggup saya maknai secara serius.

Film dengan tokoh utama huruf antihero atau psychopath / sociopath bahwasanya bukanlah hal baru. Kita sudah punya beberapa: Taxi Driver, American Psycho, A Clockwork Orange, hingga (mungkin) Fight Club. Joker, berdasarkan saya sama sekali tidak mencapai level film-film tersebut - dan mungkin memang dimaksudkan demikian. Mungkin kau tidak sepakat dengan pendapat saya, dan menyampaikan bahwa apa yang dilakukan Joker di film ini yakni sebuah kebrutalan yang luar biasa. Oh ya, saya ga akan membenarkan apa yang dilakukan Joker/Arthur. Tapi semua yang dibunuhnya yakni orang-orang yang jahat di mata Arthur. Sebut saja: tiga yuppie mabuk yang sebelumnya membully dirinya, ibunya yang kerap menyiksa Arthur dikala kecil, rekan kerja yang mengkhianatinya dan Murray Franklin (Robert deNiro) yang menjadikannya sebagai materi tertawaan. Kita dengan praktis membenarkan segala perbuatannya, sebab kita merasa mereka orang jahat di film ini. Bahkan Thomas Wayne, sebagai antagonis, juga dengan cukup lugas disampaikan sebagai orang kaya raya yang arogan. Todd Phillips sama sekali tidak berusaha menciptakan kita hilang simpati dengan Arthur. Film ini sama sekali ga mempermainkan moral compass kita. Akan beda dongeng bila Arthur tega membunuh Gary, misalnya, atau membunuh orang tidak berdosa. Tentu ini bikin kita lebih shock dan merasa Arthur beneran sinting alih-alih sekedar orang yang sekedar meluapkan kemarahannya (pembunuhan yuppie itu bahkan cuma tindakan self-defense). Bagi saya, ini yang saya sebut main aman. Bahkan ketika Todd Phillips punya kesempatan untuk memperlihatkan kesintingan Arthur, ibarat entah apa yang dilakukan Arthur kepada Sophie atau psikiaternya, Phillips memutuskan untuk tidak memperlihatkan itu.

Mari coba bandingkan dengan Taxi Driver, misalnya. Kita memang dibentuk berempati dengan huruf Travis Bickle, tapi kita tidak ditarik terlalu jauh untuk sepenuhnya sepakat dengan setiap perbuatan yang dilakukannya. Ia beneran orang yang sulit dan tengah melewati masa sulit, kemudian berusaha menjadi vigilante. Sementara dalam A Clockwork Orange dan American Psycho, Alex Delarge dan Patrick Bateman malah sama sekali tidak menjadikan kita simpati. Sementara film Joker ini, kita ditarik untuk sepenuhnya simpati dengan Arthur (kisah hidupnya memang tragis dan ia perjaka kesepian yang sentimentil), dan justru tidak bersimpati terhadap karakter-karakter yang dibunuhnya. Maka, apa bedanya Joker dengan John Wick misalnya? John Wick itu ngebunuh banyak orang dan peduli amat lah kita ama yang mati... kita kan cuma murung pas anjing John Wick mati.

Mungkin sebab itulah, sepanjang film saya tidak pernah dibentuk merasa tegang atau merasa tidak nyaman. Karena sepanjang film saya memang hanya dibikin nge-root dengan huruf Arthur dan perjalanan hidupnya, dan saya ga peduli dengan orang-orang yang dibunuh Arthur...

(Tambahan lagi: Dan dengan paranoid-nya publik Amerika Serikat terhadap kasus penembakan massal, maka meromantisir pelaku pembunuhan semacam Arthur/Joker (yang berkulit putih, punya gangguan kejiwaan) ini tentu juga sedikit mengundang kritik tajam dari beberapa orang...)

KARAKTER JOKER


Saya beruntung punya suami yang cukup nerd untuk diajak diskusi soal film. Haha. Selepas nonton Joker kami berdiskusi, dan kami berdua ternyata punya problem dengan huruf Joker, untuk dua alasan berbeda. Suami saya, merasa bahwa huruf Joker ini tidak sesuai dengan yang dibayangkannya. He's more comic fanboy than me, dan doi merasa bahwa Joker ini kurang psycho alias kurang sinting. Film Joker ini menurutnya juga kurang "chaotic" dalam menggambarkan isi otak Joker yang berdasarkan suami saya, harusnya digambarkan lebih maniak alias lebih jahat. Oh iya Arthur memang punya dilema gangguan kejiwaan, ibarat ilusi dengan membayangkan ia punya kekerabatan Istimewa dengan Sophie. Tapi ilusi ini toh bukan sesuatu yang relatif berbahaya dan lebih ke khayalan orang jomblo. Malah ilusi ini ga terlalu ngaruh dengan plot cerita. Oh ya, Arthur mungkin juga tampak sebagai perjaka kesepian yang kerap menari sendirian di apartemennya, atau dimanapun ia merasa ingin menari tanpa terlihat orang lain, tapi ya saya sendiri juga suka nari-nari sendiri di dalam kamar dan itu bukan berarti saya sakit jiwa. Kegilaan Arthur sepertinya hanya di atas kertas, literally di atas kertas, dikala ia suka menulis catatan dalam jurnalnya yang memperlihatkan betapa depresifnya dirinya. Tapi saya sendiri merasa hal ini kurang digali lebih dalam. Bros).

Sederhananya, kalo kata saya sih huruf Arthur Fleck sebagai Joker di sini lebih akrab dengan term sociopath dibandingkan psychopath. Segala tindakan kejahatan yang dilakukannya lebih kepada ia sedang murka dan melampiaskan kekesalannya. Mungkin kau sering mendengar berita-berita semacam ini, contoohnya seorang laki-laki membunuh istrinya sebab istrinya berselingkuh. Kita akan lebih praktis menyampaikan bahwa tindakan laki-laki ini yakni kejahatan yang timbul dari rage (amarah) daripada ia menderita gangguan jiwa, dan laki-laki ini akan tetap masuk penjara dan bukannya rumah sakit jiwa. Kalo berdasarkan saya, orang dengan gangguan jiwa sudah ga sanggup membedakan mana benar dan mana salah, dan seorang psikopat memang kesulitan untuk membangun tenggang rasa dengan orang lain. Tapi psikopat emang biasanya narsistik, dan Arthur ini berdasarkan saya emang narsistik sih. Narsistik kesepian yang ingin hidupnya berarti, tapi nasib buruk terus menimpanya hingga ia jadi depresi, dan mungkin yang ia butuhkan yakni sebuah pelukan dan support system yang layak. Eh tapi ga tahu juga sih, saya toh bukan psikolog dan sanggup jadi pendapat saya ini sok tau wkwkwkw

Jika suami saya merasa film Joker kurang chaotic dalam memperlihatkan tabiat Joker, saya merasa Joker di sini.... begitu lemah. Ini mungkin sebab saya sudah kadung jatuh cinta dengan Joker versi Heath Ledger di The Dark Knight kalik ya. Di situ Jokernya emang beneran jenius, psychopath, dan manipulatif. Beneran agent of chaos dan lawan seimbang buat Batman. Tapi saya sama sekali ga melihat Joker versi itu di sini. Oh yeah, saya tahu dua Joker itu berbeda dan ga sanggup dibandingkan, tapi setidaknya bila memang berniat bikin origins Joker, harusnya Joker versi Joaquin Phoenix ini lebih arif dan cerdas dari yang ditampilkan di sini. Seandainya Joker ini memang hendak dilanjutkan dalam film berikutnya, dan muncul Batman sebagai lawannya, saya yakin Batman ga akan susah untuk mengalahkannya.

SOCIAL COMMENTARY

Dalam film Joker, Arthur Fleck dianggap sebagai sebuah simbol perlawanan dan pemberontakan sehabis aksinya membunuh tiga pekerja Wayne Enterprise. Beberapa orang juga menganggap film Joker merupakan sebuah kritikan ihwal kesenjangan sosial atau lingkungan yang miskin empati, dan menciptakan orang-orang ibarat Arthur terabaikan. Akan tetapi..... saya merasa Todd Phillips kurang tajam dan solid dalam memasukkan pesan ini ke dalam keseluruhan filmnya - walaupun mungkin pidato manifesto Joker di program Murray Franklin tetap akan menciptakan saya bertepuk tangan. Dalam memperlihatkan kesenjangan antar kelas, Joker hanya menyampaikannya sambil kemudian tanpa memberikan momen yang sungguh memperlihatkan itu. Apa iya Gotham ambruk sebab ulah orang-orang kaya? Jika emang ingin mengkritik oligarki lah, atau kapitalisme lah, maka Todd Phillips harusnya lebih memperlihatkan itu daripada sekedar menjadikan Thomas Wayne sebagai samsak yang disalahkan seorang diri.

Sementara itu, David Ehrlich dari Indiewire membandingkan Joker dengan Fight Club (beberapa orang tidak sepakat dengan perbandingan ini, namun saya rasa perbandingan ini masuk akal). Fight Club juga merupakan film yang dikala pertama kali muncul kerap disalahpahami sebagai sebuah film yang mempromosikan kekerasan dan anarki - namun kemungkinan besar mereka yang hanya melihat sudut pandang ini tidak benar-benar memahami Fight Club dengan baik. Fight Club punya kritik sosial spesifik ihwal consumerism dan capitalism, dan Tyler Durden - mungkin akan disalahpahami sebagai seorang modern prophet, walaupun kita tahu bahwa terlepas dari sabdanya yang menggugah jiwa, kita tetap merasa ia seorang "false-idol". Namun Arthur Fleck? Tidak sama sekali. Bagi saya ia tidak punya ideologi yang layak membuatnya menjadi simbol perlawanan. Ia bahkan bilang ia tidak percaya apapun dan bukan seorang politikus. Di mata saya, Arthur yakni narsistik yang sibuk dengan dilema personalnya, dan keterkaitan antara dilema personal dengan social commentary yang hendak film ini berdiri tidak terlalu berafiliasi dengan jelas. Satu-satunya dilema Arthur dengan Gotham yakni ketika alokasi dana sosial terpotong dan ia tidak punya jalan masuk untuk obat-obatan lagi. Selain itu, Fight Club "menggoda" moral code penonton dengan ditampilkannya pergulatan batin antara narrator vs Tyler Durden, sedangkan Joker sama sekali tidak berupaya menampilkan itu. Kita dibikin (diam-diam) sepakat bahwa tindakan kejahatan Joker yakni hal yang masuk akal.

INTINYA ....

Sebelum saya dicerca habis-habisan sebab dianggap menjelekkan film Joker, perlu saya luruskan terlebih dahulu bahwa saya ga bilang Joker yakni film yang buruk. Film ini tentu memberikan pendekatan yang menarik dan fresh di genre superhero, sinematografi dan scoring music-nya sangat menawan, dan akting Joaquin Phoenix memang sangat memukau (walau saya lebih suka aktingnya di The Master). Namun, saya ga akan bilang bahwa Joker serevolusioner yang dianggap banyak orang. It's a good movie, tapi ya masih jauh dari sempurna, dan mungkin sedikit tidak bertanggung jawab...

Akan tetapi, kenapa banyak orang yang menyukai film ini?


Ini sekedar pengamatan berdasarkan saya sih. Saya melihat bahwa begitu banyak orang yang menyukai Joker, dan merasa Arthur Fleck sedikit-banyak menggambarkan ihwal diri mereka. Enggak, saya ga bilang bahwa banyak orang mengalami mental illness sebagaimana yang diderita Arthur, namun saya rasa fenomena ini universal melanda kita generasi milenial atau generasi Z. Dua generasi ini yakni generasi yang menyayangi selfie dan cukup narsis. Kita merasa dunia berpusat pada diri kita, dan hasrat kita menjadi tepat itu sedemikian besar. Kita ingin menjadi langsung paling terbaik, populer, diidamkan lawan jenis.. Tapi ya kadang nasib baik tidak menimpa kita. Kita dilahirkan dengan wajah pas-pasan, tidak terlalu cerdas, tidak punya cukup uang, tidak punya banyak keahlian, belum lagi kita mungkin punya beban problem hidup yang menyiksa: kekasih yang tidak setia, orangtua yang tidak pernah mau mengerti, dll.. dan bahkan bila kita cantik, pandai dan kaya, kita akan selalu merasa diri kita ada yang kurang. Dan kita putus asa menghadapi ini semua... Kita punya mimpi besar, tapi kita tidak tahu cara mencapainya. Hidup memang tidak adil. Dan ini menciptakan kita sungguh depresi

Kurang lebih, kita yakni Arthur Fleck. Dan serupa dengannya, selera humor yakni coping mechanism kita menghadapi hidup yang tragis. Kita harus tertawa dan optimis walau batin kita cemas dan pesimis. Kita mungkin menyukai memandang diri kita sendiri sebagai korban, dan menyalahkan lingkungan untuk nasib kita yang kurang mujur... Semakin buruk bagi lelaki, bahwa toxic masculinity menciptakan lelaki pantang untuk bersikap lemah. Misalnya, untuk sekedar menangis atau mengakui tidak berdaya. Arthur Fleck mungkin melambangkan hasrat itu: merasa kembali berdaya dengan melaksanakan kekerasan dan pembalasan dendam terhadap lingkungan.

Ah, apakah analisa saya ini sok tahu? Kayaknya sih gitu hahaha...

Kemungkinan berikutnya, kenapa banyak orang menyukai film Joker..... sebab mereka benci MCU aja... Hoho.


Demikianlah Artikel Review : Joker (2019) (3,5/5)

Sekianlah artikel Review : Joker (2019) (3,5/5) kali ini, mudah-mudahan bisa memberi manfaat untuk anda semua. baiklah, sampai jumpa di postingan artikel lainnya.

Anda sekarang membaca artikel Review : Joker (2019) (3,5/5) dengan alamat link https://nurchocolatey.blogspot.com/2018/07/review-joker-2019-355.html

0 Response to "Review : Joker (2019) (3,5/5)"

Post a Comment

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel