Review: Gundala (2019) (2,5/5)

Review: Gundala (2019) (2,5/5) - Hallo sahabat nurchocolatey, Pada Artikel yang anda baca kali ini dengan judul Review: Gundala (2019) (2,5/5), kami telah mempersiapkan artikel ini dengan baik untuk anda baca dan ambil informasi didalamnya. mudah-mudahan isi postingan Artikel 2019, Artikel action, Artikel indonesia, Artikel superhero, yang kami tulis ini dapat anda pahami. baiklah, selamat membaca.

Judul : Review: Gundala (2019) (2,5/5)
link : Review: Gundala (2019) (2,5/5)

Baca juga


Review: Gundala (2019) (2,5/5)


Hola. Saya muncul lagi. Kali ini berkat film Gundala

Bagi yang sering membaca blog saya, mungkin sudah tahu ya jikalau saya bukan penggemar film Indonesia, dan sebagai orang Indonesia saya juga ga nasionalis-nasionalis banget. Ditambah lagi, saya bukan fans film-film Joko Anwar. Maka, tiga fakta itu mungkin akan mengaburkan evaluasi saya soal film Gundala di racauan saya kali ini.

Sebelumnya, kita dikejutkan dengan dirilisnya secara resmi "Bumilangit Cinematic Universe" atau Jagat Sinema Bumilangit yang menampilkan formasi cast pemain film dan aktris Indonesia paling laku ketika ini. Bumilangit Cinematic Universe ini akan diawali lewat film Gundala. Kemunculan BCU ini sepertinya disambut dengan suka cita oleh fans superhero Indonesia, yang kayaknya memberikan bahwa animo film superhero belum berakhir (So MCU Phase four? Bring it in!). Saya harus akui ini ialah langkah berani, alasannya Gundala bahkan belum dirilis. Tapi apakah ini ialah langkah yang cerdas? Gimana jikalau Gundala jeblok di pasaran? Lha ini. Saya bergotong-royong skeptis... Pesimisme saya akan film superhero orisinil Indonesia sesungguhnya bukan soal CGI, kostum, atau hal-hal yang sifatnya technical, tapi.... naskah! Dan ya, pesimisme saya itu terjawab lewat film Gundala. Bagi saya pribadi, sebagai penikmat film namun bukan penggemar komik, Gundala ini bukan film superhero (atau di satu kesempatan Joko Anwar lebih suka menyebutkan sebagai film "jagoan") yang..... bagus. Ouch. Tapi saya sih optimis Gundala tidak akan flop di pasaran, soalnya film-film superhero dari luar yang ga terlalu bagus aja ya tetap diminati (Contoh: Venom) dan kinerja marketing Gundala yang sukses bikin penonton penasaran. Apalagi Gundala, digadang-gadang sebagai sebuah bentuk kemajuan perfilman Indonesia dan hanya orang jahat yang tidak mendukung film Indonesia

Oke, mari kita bahas beberapa hal yang menjadi kekurangan Gundala. Semoga kekurangan yang saya sampaikan ini ga dianggap sekedar sebuah kenyinyiran, tapi juga kritik konstruktif.

*SPOILER REVIEW*

CERITA & NASKAH

Saya bukan penggemar Joko Anwar untuk satu alasan: saya merasa filmnya terlalu "muluk-muluk". Setidaknya hal ini saya rasakan dari beberapa filmnya yang sudah pernah saya tonton, salah satunya Pengabdi Setan (menggabungkan unsur lokal dengan sekte iblis ala barat sejujurnya sangat mengecewakan saya). Demikian pula yang terjadi dengan Gundala. Sebagai sebuah film pertama, saya rasa Joko Anwar (atau seluruh tim BLU) terlalu gegabah untuk memasukkan semua isi otaknya ke dalam satu film. Harusnya Joko Anwar bisa sedikit "sadar diri" dan lebih hati-hati, menyederhanakan konflik dalam film ini, fokus pada 1-2 hal, kemudian mengemasnya dengan lebih solid. Ini ialah hal yang lumrah dilakukan untuk film yang akan menjadi benchmark universe yang akan dikembangkan, sehingga build up ke film-film selanjutnya juga jadi lebih gampang. Menurut saya gpplah film awal itu biasa aja dari segi cerita, atau bahkan jatuh sedikit klise, yang penting secara keseluruhan tetap solid (contoh: Wonder Woman). Sayangnya, hal itu ga dilakukan Joko Anwar. Terlalu banyak hal yang ingin ia masukkan, menciptakan ceritanya jadi ambyar dan narasinya berantakan. Dan ini ialah kelemahan utama yang paling fatal, dan menciptakan segala kehebatan hal-hal teknis dari segi visual dan sound, maupun akting keren dari para castnya, jadi sia-sia.

Saya ngerasa Joko Anwar ingin menciptakan film serumit The Dark Knight-nya Nolan, dengan memasukkan unsur-unsur sosial politik yang dianggap relevan dengan situasi sosial politik Indonesia ketika ini (supaya katanya lebih relatable dengan permasalahan negara ini, alasannya level Indonesia memang masih belum lawan alien). Saya juga dapet kesan film ini ibarat Batman v Superman: Dawn of Justice, dengan filosofi-filosofinya yang "dalam". Tapi... ya gitu. Kasusnya sama aja kayak kesalahan yang pernah dilakukan Zack Snyder di BvS (mbulet, script-nya mencoba rumit tapi bergotong-royong sederhana). Segala konsep yang bagus kalo eksekusinya ga bagus kan percuma. Saya pikir sebenarnya Joko Anwar sudah punya konsep yang dalem, tapi begitu disampaikan dalam film malah terkesan maksa, dibuat-buat, dan ga natural. Terutama dari dialognya yang berusaha "quotable" dan kaku (yang benernya bagus sih ketika ngebicarain soal moral, rakyat, dll. Tapi entah kenapa jatuhnya jadi sedikit mengganggu alasannya terdengar sok bijaksana dan ibarat orang berpuisi). Saya pikir harusnya Joko Anwar (atau penulis naskah Indonesia lainnya) berguru untuk bikin film dengan obrolan yang lebih dinamis, lebih cepat (soalnya saya ngerasa film-film Indonesia, bahkan termasuk film komedinya, kebanyakan bergerak terlalu lambat), tapi solid dan efektif. Dan cobalah untuk tidak terlalu eksplisit bercerita lewat obrolan (Coba deh perhatikan adegan ketika Dirga (Zidni Hakim) muncul di pertemuan legislatif kemudian bertemu dengan Ridwan (Lukman Sardi) dan Pengkor (Bront Palarae). Perhatikan dialog-dialognya. Misal untuk memberikan "ke-mafiaannya" si Pengkor, cuma disampaikan lewat obrolan semacam "Kenapa sih kita harus nyembah dia? Memangnya beliau siapa?" atau "Sebagian orang menganggap beliau Tuhan" tanpa sungguh-sungguh memberikan bagaimana imbas Pengkor di legislatif, atau ancaman beliau sebagai bandit itu semengerikan apa).

Berikutnya, bergotong-royong saya kesulitan memahami alur dongeng film ini. Haha. Apa sih aktivitas Pengkor sebagai penjahat, mafia, atau rakyat dalam film ini dengan niatnya bikin generasi amoral? Tolong bantu saya untuk memahami, terutama untuk twistnya: (MAJOR SPOILER) "Apakah benar untuk menghancurkan es yang mengurung "Ki Wilawuk" butuh konspirasi supaya Gundala menghancurkan botol-botol serum yang punya frekuensi yang sama dengan es yg mengurung Ki Wilawuk?". Bahkan ketika balasannya tahu endingnya, saya juga merasa korelasinya, antara Pengkor/Ghazul (Ario Bayu) dan Sancaka (Abimana Aryasatya), sedikit melompat dan janggal. Ga menyatu. Pengkor dan Sancaka aja gres bekerjasama di bab simpulan film. Narasi film ini terasa berantakan, utamanya sesudah Sancaka dewasa, alasannya sepertinya Joko Anwar kesulitan untuk menghubungkan dongeng Sancaka dan Pengkor. Ada juga beberapa adegan yang terasa dipotong mendadak, tanpa ngasih kesimpulan, sehingga mengganggu kontinuitasnya (ingat adegan mau ngelabrak Ganda di pesta kawinan? ingat adegan Sancaka kecil mengeluarkan petir pas Bapaknya mati?). Bagi saya ada banyak adegan yang ga penting untuk dimasukkan, dan mungkin salah satu faktornya alasannya Joko Anwar terlalu banyak memasukkan aksara dan sub-plot dalam film ini. Balik lagi ke problem awal: Joko Anwar terlalu ambisius memasukkan ide-ide dalam kepalanya.

KARAKTER

Saya ga tahu dengan kalian, tapi bagi saya Gundala juga lemah dalam menampilkan karakterisasi si Sancaka. Sancaka sebagai anak kecil ibarat apa sih? Sancaka sebagai remaja (setelah ditinggal orangtuanya) ibarat apa sih? Sancaka sebagai orang cukup umur ibarat apa sih? Tidak ada adegan yang sungguh-sungguh menampilkan aksara Sancaka, as a real person, selain lewat percakapan-percakapan sederhana ibarat "Iya, gue dikeroyok alasannya nolongin anak perempuan". Pengembangan karakternya balasannya berjalan flat: terutama bagaimana Sancaka mempelajari nilai moral yang harus ia pegang. Awalnya udah bener, ketemu Awang jadi cuek, ketemu Pak Agung nyelamatin copet balasannya jadi baik lagi. Dan baiknya kelihatan pas nolongin Wulan (Tara Basro). Kan saya jadi curiga, beliau beneran jadi baik atau cuma mau nyelametin cewek cantik? Karena pengembangan karakternya tidak digarap dengan cukup baik, maka faktor emosionalnya juga jadi ga dapet. Ini hal yang jelek alasannya Gundala sebagai sebuah film ingin dibangun sebagai sebuah film yang dramatis dan mengaduk emosi (kurang sengsara apa coba si Sancaka lahir dari keluarga miskin ditinggal mati bapaknya kemudian ditinggal ibunya di rumah yang kaga ada tetangga?).

Lantas sebagai sebuah film superhero, saya tidak menangkap "kekerenan" sosok superhero dari diri Gundala. Okelah beliau jago bela diri, sesekali bisa mainan petir, tapi ga ada scene yang benar-benar memberikan kesaktiannya. Ga ada adegan scene yg cool yang bisa bikin kita (atau saya) menahan napas saking kerennya. Saya nahan napas paling pas liat Abimana shirtless dan Ario Bayu tampak ganteng dengan kulit kecoklatannya. Malah adegan yang cool justru pas si Cecep Arief Rahman muncul dengan topeng di bab belakangnya (ini adegan terbaiknya lah). Perkembangan kekuatan Sancaka, bagaimana ia mempelajari dan menguasai kekuatannya, juga ga digarap dengan baik. Sancaka mempelajari kekuatannya cuma ditunjukkan lewat dagelan yang jadi bab lucu dari film (yang bergotong-royong leluconnya cukup bagus, saya beneran bisa ketawa tulus). Unsur petir yang menjadi superpower Gundala juga digarap dengan minimal, belum lagi asal permintaan ia dapet kekuatan petir (atau takut petir) juga ga diperlihatkan. Mbok ya misal awal-awal dikasih adegan Sancaka kecil main layangan pas hujan-hujan kemudian kesambar petir, yang balasannya menjelaskan kenapa ia takut petir atau sudah punya kekuatan petir pas bapaknya mati. Atau ya bisa juga Sancaka dibikin sebagai aksara yang aktif mencari tahu kenapa beliau selalu diincar petir, atau kenapa beliau bisa punya kekuatan petir, bikin kek beliau semacam ilmuwan belajar sendiri alih-alih sekedar satpam ganteng dari perusahaan surat kabar yang bisa benerin lampu dan headset. At least, ini juga jadi ada hubungannya dengan komik orinya (karena di komik ori-nya Sancaka ialah seorang ilmuwan). 

Berikutnya: dengan tagline "Negeri ini butuh patriot", saya ga nemu alasan besar lengan berkuasa Sancaka untuk jadi Patriot bagi negeri, atau bahkan kenapa negeri butuh Sancaka sebagai patriot. Karena kekuatan Sancaka cuma diperlihatkan beliau bisa ngehajar preman-preman doank. Level preman doank rek. Antara skala ancaman penjahat yang bersifat "negara", dengan lingkup kerja Sancaka, jadi ga nyambung dan ga dikasih benang merah. Akan lebih baik misalkan dari awal bapaknya Sancaka jadi korban bentrokan dengan pegawanegeri negara (atau perusahaan negara), sehingga dari awal kita sudah diperlihatkan "ruang kerja" Sancaka berskala negara. Lalu Sancaka benci negara, beliau jadi antipati dan cuek, tapi kemudian ketemu Pak Agung yang mengingatkan beliau harus menolong yang lemah atau melawan ketidakadilan (bisa juga ditambahkan supaya lebih emosional misal Pak Agung yang jadi new father-nya Sancaka ini jadi korban keberingasan preman-preman suruhan Pengkor). Lalu beliau mengenang pesan bapaknya pas masih kecil, trus balasannya jadi patriot beneran... yang fokusnya bergotong-royong bukan jadi patriot atau alat negara, tapi patriot bagi rakyat yang kesusahan. Awalnya beliau merendahkan dirinya, ga percaya dengan kekuatannya sendiri, tapi terus dibantu Wulan bahwa beliau bisa memaksimalkan kekuatannya untuk membantu orang, dan belakang layar kekuatannya ada pada kepercayaan dirinya sendiri. Nah kan oke. (Ini kalo saya yang nulis ceritanya bakal begini kalik).

Terbangkitnya rasa kepahlawanan dalam Sancaka juga terasa nyaris berubah dalam satu malam. Kalopun berubah sedemikian cepat, harusnya ada momen emosional yang menyentuh personal Sancaka. Ia gres aja ketemu aksara Tara Basro, ia gres tiba sekali ke pasar itu, ia sebelumnya hirau taacuh dengan hal yang terjadi di sekitarnya, kemudian tiba-tiba pasar kebakar dan Sancaka mendadak pengen jadi pahlawan yang melawan ketidakadilan (dan beliau bahkan ga mempelajari kekuatan petirnya). Rasa kepahlawanannya ini gila alasannya sebelumnya ia berguru bertahun-tahun untuk ga ngurusin hidup orang lain. Pertemuan dengan Awang merusak nilai moralnya (ini ialah subplot yang mungkin tidak diharapkan selain cuma pengen bikin penonton ngebet nonton Godam). Lebih emosional misal Pak Agung yang dijadikan korban keberingasan anak buah Pengkor. Sancaka akan punya alasan untuk marah, dan kita juga akan lebih mangkel sama Pengkor. Mau tau juga kenapa saya tidak merasa Pengkor beneran jahat? Karena kejahatannya tidak dilakukan ke orang-orang yang kita pedulikan (atau minimal ada invest emosi), ibarat aksara "politikus-muda-yang-lagi-naik-daun" atau politikus temannya karakternya Lukman Sardi.    

Berikutnya, dan saya rasa semua orang mencicipi hal yang sama: terlalu banyak karakter. Saya ga tahu kenapa Joko Anwar pribadi mengeluarkan banyak villain dengan ciri khas yang unik-unik dalam satu film. Kenapa ga disimpen sedikit-sedikit sih! Kasihlah 2 anak buah Pengkor aja yang jago: si gundul hebat halusinasi dan mas Cecep Arief Rahman. Simpanlah villain-villain lainnya untuk film berikutnya. Pertama, supaya film-film BLU lainnya punya stock villain-villain yang oke. Kedua, supaya kesannya ga Gundala dikeroyok. Mana fighting scene di finalnya model keroyokan pula ga ada kerjasamanya antara anak buahnya Pengkor .Tbh, messy banget lah adegan final fight-nya ini. Si Sancaka disuruh Ridwan nyariin Pengkor, eh baik bener Pengkor yang malah ngedatengin Sancaka sendiri. Mana Pengkor dibunuh gitu doank - yang nembak Lukman Sardi, yang ngaplok Tara Basro, bukan si Gundala, trus sempet-sempetnya pas sakaratul simpulan hidup masih ngomong ga jelas. Ketiga, biar potensi villainnya ter-develop dengan baik dan memorable. Kayak gini kan jadi sia-sialah si Kelly Tandiono: ikut promosi filmnya, dongeng latihan hingga 2 bulan, tapi ternyata muncul 2 menit doank, pake baju biasa pula. Belum lagi masa aksara macam pemain biola level pembunuh (yang bergotong-royong stylenya keren) disuruh ngebakar pasar. Kenapa ga nyuruh preman amatir lah kalo cuma buat bakar pasar. Udah gitu matinya masa ketabrak truk doank. Makara harusnya kalo Pengkor bertanya-tanya siapa pembunuh anaknya ini, ya yang ngebunuh supir truknya itu lah bukan Sancaka.... Keempat, dengan meminimalkan jumlah karakter, minimal budget buat cast pemainnya juga bisa dikurangi kemudian dialokasikan untuk bangun imbas petir lebih banyak kek, atau biar CGI pas Sancaka dijatuhin dari atap ga konyol begitu...

CGI & FIGHTING SCENE

Kebanyakan penonton selalu membandingkan kualitas film Indonesia dengan film-film Barat dari segi CGI (atau practical effect). Seolah-olah kemajuan sebuah film cuma dilihat dari imbas CGI-nya. Tapi saya sendiri bukan pengamat CGI, selama CGI-nya ga bikin sakit mata macam naga dan ular di Indosiar, saya oke-oke aja. Sebagai penonton awam, saya lebih suka memperhatikan naskah dan cerita. (Karena itulah saya dengan berat hati bilang film Gundala ialah film yang ga bagus, alasannya ga ada alasan untuk tidak bisa bikin naskah dan dongeng yang bagus. Harusnya kita bisa). Dan CGI di Gundala, terutama imbas petirnya, cukup baik di mata saya. Paling yang bikin saya ketawa cuma pas Sancaka dijatuhin dari atap.. kayak film kartun gitu deh yang dilempar "tuiiingg" lalu "brukkk" jatuh ke tanah. Dengan figuran yang konon hingga ribuan orang, adegan demonstrasi dan bentrokan juga sudah wow.

Joko Anwar sepertinya sudah mengetahui keterbatasan dalam menciptakan film ini, sehingga ia membangun Gundala dengan lebih realis dan memfokuskan adegan action-nya dalam pertunjukan seni bela diri alih-alih action scene yang melibatkan banyak ledakan, tembakan, adegan terbang, atau efek-efek superpower (mungkin alasannya alasan inilah doi lebih suka menyebut Gundala sebagai film Jagoan daripada film Superhero). Sebuah keputusan yang tepat, apalagi Indonesia akhir-akhir ini memberikan gregetnya di dunia internasionalnya lewat agresi baku hantam ini. Sayangnya, saya merasa fighting scene-nya terasa repetitif dan monoton alias kurang variatif. Ada banyak adegan baku hantam di Gundala, tapi skalanya dari awal ke simpulan tidak ada peningkatan. Bolehlah ada banyak adegan baku hantam, tapi coba manfaatkan set lokasi untuk ngasih koreografi yang berbeda, senjata yang berbeda, atau skala kekuatan yang berbeda (coba deh liat film-film John Wick atau The Raid). Belum lagi adegan klimaksnya yang berantemnya malah lebih "lembut", model keroyokan pula. Kenapa sih si mas Cecep ga ditaruh paling simpulan aja, kemudian dipasangkan sama si gundul hebat halusinasi untuk bikin final fighting scene yang epik.

HAL LAIN-LAIN

Hmmm.. ijinkan saya random ngomongin kejanggalan film Gundala lainnya. Haha. Pertama, dari awal hingga simpulan film, saya ngerasa Gundala terlalu sering menampilkan adegan demo, bentrok, main keroyokan, adegan lari dikejar preman, dan adegan Sancaka kecil keringetan nungguin emaknya pulang... Diulang-ulang melulu. Kedua, Gundala menceritakan perihal anggota legislatif tapi kenapa ga menampilkan presiden atau minimal orang pemerintah ya. Legislatif kan gunanya bikin undang-undang, dengerin aspirasi rakyat kemudian memberikan pemerintah dan mengawasi kerja pemerintah. Tapi pemerintahnyaaa manaa? Udah gitu masa skala darurat nasional bahwa beras pemerintah telah teracuni, kok dibikin solusi lewat undang-undang yang disahkan legislatif. Ga logis dan ga bakal kejadian di dunia konkret (ya masa situasi darurat begitu kudu lewat hasil rapat). Ketiga.... adegan kendaraan beroda empat berhenti di depan palang pintu kereta. Bookkk itu udah kawasan sepi begitu, bahaya, kenapa dilewati melulu sih. Udah gitu palang pintu kereta tertutup mana keretanya kok ora lewat-lewat

HAL-HAL YANG BAIK

Tenang, saya ga akan sepenuhnya "menghujat" film ini. Masih ada poin-poin yang menciptakan Gundala wow banget sebagai film garapan anak negeri. Kita ga usah ngeraguin lah selera seni Joko Anwar. Banyak gambar yang di-shoot dengan sangat bagus dan menawan, dengan desain produksi yang juga ga malu-maluin. Bahkan dalam salah satu wawancara, Abimana cerita soal perfeksionisme Joko Anwar, dimana dalam satu adegan pertarungan pasar mereka mengambil set lokasi yang berbeda alasannya Joko Anwar punya harapan spesifik soal interior dan eksterior pasarnya. Walau agak sayang alasannya for the sake of beautiful shoot, terkadang harus mengorbankan dongeng dan narasinya. Scoring dan music film ini juga salah satu poin plus film ini, walaupun untuk kasus ini saya ga terlalu hebat dan ga memperhatikan banget. Saya juga suka Joko Anwar memasukkan unsur horror ke dalam film Gundala, ini keren banget. Perhatiin deh adegan ketika anggota legislatif termuda si Dirga ngerasa paranoid dibuntutin, atau mimpi-mimpi abstrak Sancaka, atau pas Pengkor kecil ngajakin temen-temennya ngebunuhin orang di panti asuhan, atau pas kemunculan mas Cecep menghajar bodyguard-nya aksara Lukman Sardi. Menurut saya Joko Anwar sebagai sutradara ini sudah bagus, alasannya beliau tahu gimana mengarahkan pemain-pemainnya, punya visi misi dan ambisi besar, kepercayaan diri yang patut dikagumi, serta selera seni yang baik. Namun ya sepertinya Joko Anwar perlu menyerahkan penulisan script ke orang lain, dan mempelajari gimana bikin adegan action yang lebih bagus lagi.




Demikianlah Artikel Review: Gundala (2019) (2,5/5)

Sekianlah artikel Review: Gundala (2019) (2,5/5) kali ini, mudah-mudahan bisa memberi manfaat untuk anda semua. baiklah, sampai jumpa di postingan artikel lainnya.

Anda sekarang membaca artikel Review: Gundala (2019) (2,5/5) dengan alamat link https://nurchocolatey.blogspot.com/2018/08/review-gundala-2019-255.html

0 Response to "Review: Gundala (2019) (2,5/5)"

Post a Comment

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel