Venom (2018) (2,5/5)
Venom (2018) (2,5/5) - Hallo sahabat nurchocolatey, Pada Artikel yang anda baca kali ini dengan judul Venom (2018) (2,5/5), kami telah mempersiapkan artikel ini dengan baik untuk anda baca dan ambil informasi didalamnya. mudah-mudahan isi postingan
Artikel 2018,
Artikel action,
Artikel adventure,
Artikel drama,
Artikel superhero, yang kami tulis ini dapat anda pahami. baiklah, selamat membaca.
Judul : Venom (2018) (2,5/5)
link : Venom (2018) (2,5/5)
Anda sekarang membaca artikel Venom (2018) (2,5/5) dengan alamat link https://nurchocolatey.blogspot.com/2018/10/venom-2018-255.html
Judul : Venom (2018) (2,5/5)
link : Venom (2018) (2,5/5)
Venom (2018) (2,5/5)
RottenTomatoes: 30% | IMDb: 7,1/10 | Metascore: 35/100 | NikenBicaraFilm: 2,5/5
Rated: PG-13 | Genre: Action, Sci-fi
Directed by Ruben Fleischer ; Produced by Avi Arad, Matt Tolmach, Amy Pascal ; Screenplay by Jeff Pinkner, Scott Rosenberg, Kelly Marcel ; Story by Jeff Pinkner, Scott Rosenberg ; Based on Venom by David Michelinie, Todd McFarlane ; Starring Tom Hardy, Michelle Williams, Riz Ahmed, Scott Haze, Reid Scott ; Music by Ludwig Göransson ; Cinematography Matthew Libatique ; Edited by Maryann Brandon, Alan Baumgarten ; Production company Columbia Pictures, Marvel Entertainment, Tencent Pictures, Arad Productions, Matt Tolmach Productions, Pascal Pictures ; Distributed by Sony Pictures ; Releasing Release date October 5, 2018 (United States) ; Running time 112 minutes ; Country United States ; Language English ; Budget $100–116 million
Story / Cerita / Sinopsis :
Jurnalis Eddie Brock (Tom Hardy) mendapat kekuatan dari symbiote, dan membentuk alter-egonya berjulukan Venom.
Overview:
(Perhatian, review ini lebih cocok dibaca yang sudah nonton filmnya ya. Akan ada beberapa spoiler yang pengen saya bahas, alasannya saya ga tahan untuk nyinyir).
Kembali ada film superhero yang mendapat kritikan pedas dari kritikus (sejauh ini skornya di Rotten Tomatoes cuma 30%), dan hal ini sepertinya menciptakan emosi penonton dan fans kebanyakan. Kritikus boleh jadi mengkritiknya habis-habis, tapi audiens cukup menyukainya alasannya Venom sukses di box office dan ratingnya di IMDb sejauh ini 7,1/10 dan audience score di RT : 89%. Banyak penonton yang curhat di sosmed agar kita mengabaikan evaluasi kritikus (yang dianggep sok elit) dan bilang bahwa Venom yakni film yang tetap seru dan menghibur. Hal ini bikin saya bertanya-tanya apakah kritikus dan audiens menonton 2 film yang berbeda. Tapi saya sendiri masuk ke gedung bioskop dengan niat suci berusaha untuk positive thinking dan mengabaikan review jelek dari kritikus, tapi dari 10 menit pertama saya sudah merasa Venom ini totally messed-up. Iyes, berantakan!
Entah harus dari mana saya memulainya...
Sejak 30 menit pertama, ketika kita diajak berkenalan dengan Eddie Brock (Tom Hardy), kekasihnya Annie (Michelle Williams) dan si villain pemimpin perusahaan jahat Carlton Drake (Riz Ahmed), saya sudah merasa narasi film ini dibangun begitu terburu-buru dan berantakan. Setiap potongan film yang diceritakan ibarat dipaparkan begitu saja tanpa intensitas dan kedalaman berarti, kemudian dicut gitu aja untuk menawarkan dongeng selanjutnya. Kita tuh kayak ga diajak untuk meresapi momen-momen duka ketika Eddie dipecat atau Annie tetapkan korelasi mereka berdua, atau at least diberikan momen berpengaruh untuk kita mempelajari huruf keduanya. Lalu, film pun kemudian semakin kacau ketika saya menyadari bahwa dialog-dialognya juga sangat cheesy dan ibarat dikerjakan dengan malas-malasan (anw, Venom ditulis oleh orang yang ngegarap The Amazing Spiderman 2 dan 50 Shades of Grey). Belum lagi sulit untuk kita mengabaikan plot-hole yang menciptakan dongeng Venom terasa konyol.
Lalu mari kita bicarakan character development-nya. Tom Hardy is a great actor, Michelle Williams juga, begitu pula dengan Riz Ahmed (saya suka pas ia main di Nightcrawler), dan Venom ini ibarat menyia-nyiakan semua bakat itu. Ini tahun 2018, dan penonton sepertinya haus dengan karakter-karakter superhero yang badass dan ga satu dimensi. Itulah kenapa banyak fans yang memuja karakter-karakter ibarat Logan dan Deadpool. Batman itu membosankan, Joker itu keren! Venom, yang basicnya yakni villain dan antihero di komik Spiderman yakni sebuah penyegaran di tengah film-film superhero yang tokoh utamanya lurus nan konservatif macam Steve Rogers. Tentu ini menjadi daya tarik untuk penonton. Namun, sayangnya saya nggak menemukan "anti-hero" itu pada huruf Eddie Brock/Venom. Dia lebih ibarat dibilang superhero daripada antihero (karena ga susah buat Eddie untuk mengendalikan Venom), dan saya heran ketika ada penonton yang bilang kalo Eddie Brock di sini yakni anti-hero. Antihero itu ga cuma sekedar huruf yang praktis ngomong bernafsu dan kepribadiannya asyik, poinnya biasanya ada pada instruksi etik dan moralnya yang abu-abu. Hanya alasannya memakan penjahat (yang beneran jahat), dan melawan SWAT Team juga tidak lantas jadi anti-hero (ini lebih ke defensif sih), dan bukankah Captain America pernah melaksanakan hal yang sama? Mau tau anti-hero itu semacam apa? Nonton Game of Thrones deh. Itu semua huruf kecuali Jon Snow dan Samwell Tarly yakni anti-hero deh kayaknya (Anti-hero idamanku: Walter White lah!). Tapi mungkin film Venom ini memang masih menjadi film pembuka yang belum sepenuhnya menjelaskan huruf Venom. Entahlah. Saya juga bertanya-tanya kenapa tidak dijelaskan alasan Venom sanggup sebegitu mudahnya merasuki Eddie sementara host-host lain yang dimasuki symbiote lain sanggup menciptakan hostnya mati.
Lalu saya merasa huruf paling dumb di Venom adalah...... Eddie Brock dan Venom itu sendiri. HAHA. Saya ga tahu Eddie Brock ini jurnalis macam apa. Ga heran kalo ia dipecat dari pekerjaannya. Dan berdasarkan saya ia layak dipecat bukan alasannya idealismenya yang agung, tapi alasannya sebagai jurnalis tindakan yang ia lakukan itu udik dan ceroboh banget (really? menyindir narasumber secara pribadi tanpa bukti yang mencukupi dan meneliti terlebih dahulu? Jurnalis itu harusnya punya taktik yang baik donk kalo emang tujuannya mengungkap kebenaran. Dan ga kepikiran apa untuk bikin youtube channel gitu untuk ngungkap kebobrokan Life Foundation?). Saya juga teringat betapa bodohnya si Eddie yang asal mencet-mencet tombol untuk mengeluarkan temannya dari lab penelitian Life Foundation, yang jadinya berujung pada chaos, si Eddie "kesurupan" symbiote dan alarm berbunyi (ya iya lah). Cukup menyedihkan melihat Tom Hardy berperan sebagai huruf yang sebegitu ceroboh dan tololnya. Dan saya heran dengan Venom, yang harusnya jahat, tapi malah berubah pikiran begitu cepat dari "menghancurkan bumi" ke "mari selamatkan bumi". Dan perubahan itu dilakukan hanya alasannya alasan klise "It's-because-of-you, Eddie", dan si Venom feel-related dengan Eddie alasannya si venom loser juga di planet asalnya. Dan berubah pikiran itu hanya dilakukan dalam satu malam! (Bahkan si Eddie dan Annie bajunya aja belom ganti). Belum lagi ketika Venom membocorkan rahasianya sendiri kalau doi takut bunyi berfrekuensi tinggi dan api. THAT'S YOUR WEAKEST SPOT AND YOU JUST SAID TO HUMAN? Anyway, Carlton Drake juga ga kalah bodoh..... KARENA GA PASANG CCTV DI LABNYA! PIYE SEH. Kalo pasang CCTV harusnya kan dari awal ia sudah tahu siapa penyusup ke labnya dan mencuri symbiote-nya.
Waktu pertama menonton trailernya, saya sempat excited alasannya menerka akan menonton film superhero yang dark dengan selera komedi yang gelap. Trailernya menjanjikan sih. Saya kira banyak penonton pun yang akan menerka demikian. Namun sayangnya semuanya itu tidak sanggup disampaikan dengan baik di filmnya. Ketika banyak yang membenci film-film MCU alasannya dianggap plotnya terlalu generik, saya malah merasa Venom ini jauh lebih klise. Sebagian menyalahkan rating PG-13 yang bikin film ini jadi kurang gore dan brutal. Tapi berdasarkan saya bukan itu poinnya. FYI, The Dark Knight, dan film-film berat MCU yakni film-film dengan rate PG-13 juga, tapi saya tidak merasa bahwa The Dark Knight atau Winter Soldier yakni film superhero untuk bawah umur SD, alasannya ceritanya yang kompleks dan intens. Sementara Venom dengan janji-janji bagus menjadi film yang dark dan "dewasa" justru punya dongeng yang klise, generik, predictable, dan obrolan udik yang bikin saya pengen ceriwis setiap saat. Intinya rate film ini PG-13 tolong-menolong lebih cocok alasannya ceritanya yang cocok untuk anak SD. HAHAHA. Jahat ya saya.
Mari selanjurnya kita bahas action scene-nya.... yang ternyata sangat mediocre. Adegan kejar-kejaran di jalanan San Fransisco itu kepanjangan dan sejujurnya nggak terlalu menarik. Ga cuma medioker, action scenenya juga miskin kreativitas dan tidak digarap dengan "stylish". Bandingkan dengan adegan yang melibatkan kejar-kejaran di jalanan ibarat di Civil War, Black Panther, atau bahkan Antman and The Wasp kemarin. Jauh lebih menarik. Dan lebih buruknya lagi: adegan-adegan actionnya yang terbaik bahkan sudah ditampilkan semua di trailer.... Ini kan fatal sekali! Ketika kita berharap transformasinya juga akan serupa body-horrornya Cronenberg, sayangnya berdasarkan saya transformasinya juga kurang "natural" (tapi mungkin saya yang banyak maunya). Tapi saya sendiri bukan "anak CGI" yang selalu ngarep CGI harus sempurna, jadi berdasarkan saya ini bukan kelemahan utama...
Overview:
Venom yakni film yang melaksanakan banyak kesalahan di banyak aspek. Naskah dongeng yang buruk, narasi yang kurang solid dan intens, obrolan yang lemah - hal-hal yang selalu akan mendapat kritikan kurang menyenangkan dari para kritikus. Mengambil sosok anti-hero sebagai tokoh utamanya, sudah tentu fans akan berharap melihat film yang cerdas, dewasa, dengan komedi kelam - sayangnya Venom ibarat kesulitan menerjemahkan anti-hero itu harus ibarat apa (persis ibarat perkara Suicide Squad!). Character development-nya payah sekali. Kamu mungkin kini merasa bahwa Venom masihlah sebuah film yang fun dan menghibur, namun kemungkinan besar lima tahun lagi dari kini fans akan segera melupakan Venom ini, dan tentu ini menjadi rapor merah bagi karir Tom Hardy.
Demikianlah Artikel Venom (2018) (2,5/5)
Sekianlah artikel Venom (2018) (2,5/5) kali ini, mudah-mudahan bisa memberi manfaat untuk anda semua. baiklah, sampai jumpa di postingan artikel lainnya.
Anda sekarang membaca artikel Venom (2018) (2,5/5) dengan alamat link https://nurchocolatey.blogspot.com/2018/10/venom-2018-255.html

0 Response to "Venom (2018) (2,5/5)"
Post a Comment