Mempertanyakan Keputusan Louise (Amy Adams) Dalam Mendapatkan Takdirnya Di Film Arrival (2016)
Mempertanyakan Keputusan Louise (Amy Adams) Dalam Mendapatkan Takdirnya Di Film Arrival (2016) - Hallo sahabat nurchocolatey, Pada Artikel yang anda baca kali ini dengan judul Mempertanyakan Keputusan Louise (Amy Adams) Dalam Mendapatkan Takdirnya Di Film Arrival (2016), kami telah mempersiapkan artikel ini dengan baik untuk anda baca dan ambil informasi didalamnya. mudah-mudahan isi postingan
Artikel belajar hidup dari film,
Artikel random thought, yang kami tulis ini dapat anda pahami. baiklah, selamat membaca.
Judul : Mempertanyakan Keputusan Louise (Amy Adams) Dalam Mendapatkan Takdirnya Di Film Arrival (2016)
link : Mempertanyakan Keputusan Louise (Amy Adams) Dalam Mendapatkan Takdirnya Di Film Arrival (2016)
Perhatian!
Tulisan ini akan mengandung spoiler dari film Arrival (Dennis Villeneuve, 2016). Bagi yang belum nonton diperlukan jangan baca goresan pena ini ya daripada kesel alasannya yaitu kena ranjau spoiler.
Anda sekarang membaca artikel Mempertanyakan Keputusan Louise (Amy Adams) Dalam Mendapatkan Takdirnya Di Film Arrival (2016) dengan alamat link https://nurchocolatey.blogspot.com/2018/11/mempertanyakan-keputusan-louise-amy.html
Judul : Mempertanyakan Keputusan Louise (Amy Adams) Dalam Mendapatkan Takdirnya Di Film Arrival (2016)
link : Mempertanyakan Keputusan Louise (Amy Adams) Dalam Mendapatkan Takdirnya Di Film Arrival (2016)
Mempertanyakan Keputusan Louise (Amy Adams) Dalam Mendapatkan Takdirnya Di Film Arrival (2016)
Perhatian!
Tulisan ini akan mengandung spoiler dari film Arrival (Dennis Villeneuve, 2016). Bagi yang belum nonton diperlukan jangan baca goresan pena ini ya daripada kesel alasannya yaitu kena ranjau spoiler.
Beberapa dikala yang kemudian saya sudah mengungkapkan keinginan saya untuk bisa mengisi blog ini dengan rubrik-rubrik gres selain sekedar mereview film. Lalu saya kepikiran untuk bikin semacam esai yang ngebahas pesan-pesan dalam film. Saya namakan rubrik ini Belajar Hidup dari Film, dan rencananya rubrik ini merupakan semacam curhatan atau pandangan langsung saya soal pesan hidup dari film-film yang berkesan buat saya. Mudah-mudahan goresan pena ini barokah. Halah.
Kali ini saya ingin ngebahas soal film Arrival, film sci-fi yang disutradarai oleh Dennis Villeneuve dan dirilis simpulan tahun 2016. Film ini sendiri saya nobatkan sebagai film terbaik versi NikenBicaraFilm tahun 2016, alasannya yaitu film ini mengandung 2 hal utama kesukaan saya: perihal alien & luar angkasa, dan unsur drama emosional yang menciptakan saya mengharubiru. Sebuah twist di endingnya juga yaitu bonus tersendiri yang menciptakan saya makin susah move on dengan film ini sendiri. Anyway, kecintaan saya dengan film Arrival pun berbuah anggun lho - goresan pena saya soal film Arrival berikut penjelasannya yaitu artikel paling laku di blog ini.
Sudah pada tahu kan film Arrival tentang apa? Ini rangkuman pendeknya buat yang sudah lupa film ini perihal apa: Dua belas kapal luar angkasa dengan alien di dalamnya tiba di beberapa kawasan di bumi. Louise Banks (Amy Adams), spesialis bahasa, diminta untuk berkomunikasi dengan para alien tersebut untuk mengetahui apa maksud kedatangan para alien itu.
Arrival punya twist yang sangat manis: ketika kita terkecoh menduga adegan antara huruf Amy Adams, si Louise, dengan anak perempuannya, Hannah, yaitu flashback, namun bekerjsama semua insiden tersebut terjadi di masa depan. Akibat kebanyakan "bergaul" dengan si alien heptapod, si Louise jadi bisa bermimpi perihal masa depannya. Ia tahu bahwa ia dan Ian (Jeremy Renner) akan jatuh cinta dan mereka akan memiliki anak perempuan. Ia juga tahu bahwa anak perempuannya akan meninggal alasannya yaitu penyakit langka, dan Ian akan meninggalkannya. Terlepas dari kenyataan pahit yang akan dijalaninya di masa depan, dan ia bisa saja menentukan jalan hidup masa depan yang lain dan mengubahnya, namun Louise tetap mendapatkan takdirnya.
Bagi saya ini yaitu konklusi yang mengharukan dan bikin saya mellow berhari-hari semenjak nonton film ini - atau bahkan kapanpun saya mengingat film ini. Namun abang sepupu saya sesudah menonton ini punya anutan berbeda dengan komentarnya, "Gue ga paham kenapa Louise tetap menjalani takdirnya. Bodoh itu namanya!".
Hmmm... apakah kau termasuk yang merasa Louise melaksanakan sesuatu yang bodoh?
Ini apa yang Louise katakan dikala mendapatkan takdir hidupnya:
Untuk menjelaskan ini, saya akan setengah curhat dengan kehidupan langsung saya. Saya punya abang laki-laki, delapan tahun lebih renta daripada saya. Kakak pertama saya itu meninggal pada usia 27 tahun, sebelas tahun yang lalu, alasannya yaitu sakit yang dideritanya. Kehilangan abang saya, juga proses kehilangan abang saya, serta kerinduan setiap kali mengenangnya - yaitu sebuah bencana untuk saya dan keluarga, dan sulit untuk tidak menangis dikala mengingat dirinya.
Hari ini, saya telah mengetahui takdir hidupnya dan takdir keluarga kami. Bagaimana perjalanan kebersamaan kami - saya dan abang saya - hanya dikasih kesempatan 19 tahun oleh Tuhan. Jika saya sudah mengetahui takdir ini semenjak dahulu, dan kalau Tuhan memperlihatkan saya pilihan apakah saya mau dilahirkan ke dunia lagi untuk menjadi adik wanita abang saya, apakah saya akan bersedia mengulangi hidup ini lagi bersamanya?
Kamu sudah tahu jawabannya: iya.
Terlepas dari seburuk apapun takdir yang ada, dan betapa traumatisnya kehilangannya... saya bersyukur bisa mengenalnya dan menjadikannya bab dari hidup saya. Tragis, namun itu semua sepadan.
Saya kira, inilah yang kemudian juga menjadi jalan hidup yang dipilih Louise: mendapatkan takdirnya. Ia menyayangi anak perempuannya, ia juga menyayangi Ian, dan ia menentukan bahwa menyayangi keduanya akan berujung sesuatu yang luar biasa menyedihkan. But she embrace it.
Saya kira kita tidak perlu mempelajari bahasa alien ibarat Louise untuk bisa mengetahui masa depan. Setiap pertemuan akan ada perpisahan, setiap orang akan mati, dan kita akan kehilangan orang yang kita cintai. Entah kapan dan entah dengan cara apa. Kita semua tahu ini kan? Memilih untuk memiliki anak, bekerjsama kita sudah tahu bahwa suatu dikala kita akan berpisah dengannya. Bagi saya, ini yaitu hal paling depresif yang pernah ada dalam hidup. Louise mungkin punya beban hidup yang berat alasannya yaitu ia tahu kapan ia akan berpisah dengan anak perempuannya. Sementara kita, diberi anugerah untuk tidak tahu kapan kita akan berpisah dengan orang yang kita cintai. Ini menciptakan kita menjalani takdir sambil berharap Tuhan kasih kita keabadian selama-lamanya.
Saat kita sudah mengetahui takdir kita, baik dan buruk, kemudian apa yang bisa kita lakukan? Louise melakukannya dengan menyambut setiap momen kebersamaan yang ada. Mengetahui bahwa hidup ini yaitu serangkaian tragedi, tidak lantas hidup kita tidak bisa dinikmati. Dengan mengetahui kenyataan ini, maka kau akan bisa lebih mengapresiasi hal-hal yang sederhana dan remeh, bersama dengan orang yang kau cintai.
Saya dulu sering banget bertengkar dengan almarhum abang lelaki saya. Rebutan masakan lah, rebutan remote TV lah, murka alasannya yaitu dikentutin lah, dan lain sebagainya. Tapi sekarang saya rela membayar apapun untuk bisa mencicipi hal itu lagi. Saya bahkan murung alasannya yaitu ingatan saya tidak cukup bisa menampung setiap kenangan yang pernah ada.
Lalu ini yang dikatakan si Ian (Jeremy Renner) saat ditanya Louise (Amy Adams) dalam ending scene Arrival:
Jadi, menurutmu apakah Louise melaksanakan sesuatu yang benar?
Sudah pada tahu kan film Arrival tentang apa? Ini rangkuman pendeknya buat yang sudah lupa film ini perihal apa: Dua belas kapal luar angkasa dengan alien di dalamnya tiba di beberapa kawasan di bumi. Louise Banks (Amy Adams), spesialis bahasa, diminta untuk berkomunikasi dengan para alien tersebut untuk mengetahui apa maksud kedatangan para alien itu.
Arrival punya twist yang sangat manis: ketika kita terkecoh menduga adegan antara huruf Amy Adams, si Louise, dengan anak perempuannya, Hannah, yaitu flashback, namun bekerjsama semua insiden tersebut terjadi di masa depan. Akibat kebanyakan "bergaul" dengan si alien heptapod, si Louise jadi bisa bermimpi perihal masa depannya. Ia tahu bahwa ia dan Ian (Jeremy Renner) akan jatuh cinta dan mereka akan memiliki anak perempuan. Ia juga tahu bahwa anak perempuannya akan meninggal alasannya yaitu penyakit langka, dan Ian akan meninggalkannya. Terlepas dari kenyataan pahit yang akan dijalaninya di masa depan, dan ia bisa saja menentukan jalan hidup masa depan yang lain dan mengubahnya, namun Louise tetap mendapatkan takdirnya.
Bagi saya ini yaitu konklusi yang mengharukan dan bikin saya mellow berhari-hari semenjak nonton film ini - atau bahkan kapanpun saya mengingat film ini. Namun abang sepupu saya sesudah menonton ini punya anutan berbeda dengan komentarnya, "Gue ga paham kenapa Louise tetap menjalani takdirnya. Bodoh itu namanya!".
Hmmm... apakah kau termasuk yang merasa Louise melaksanakan sesuatu yang bodoh?
Ini apa yang Louise katakan dikala mendapatkan takdir hidupnya:
"Despite knowing the journey, and where it leads. I embrace it. And I welcome every moment of it,"Takdir masa depannya tragis dan pahit, namun Louise tetap merangkul takdirnya dan menyambut setiap momennya. Kenapa?
Untuk menjelaskan ini, saya akan setengah curhat dengan kehidupan langsung saya. Saya punya abang laki-laki, delapan tahun lebih renta daripada saya. Kakak pertama saya itu meninggal pada usia 27 tahun, sebelas tahun yang lalu, alasannya yaitu sakit yang dideritanya. Kehilangan abang saya, juga proses kehilangan abang saya, serta kerinduan setiap kali mengenangnya - yaitu sebuah bencana untuk saya dan keluarga, dan sulit untuk tidak menangis dikala mengingat dirinya.
Hari ini, saya telah mengetahui takdir hidupnya dan takdir keluarga kami. Bagaimana perjalanan kebersamaan kami - saya dan abang saya - hanya dikasih kesempatan 19 tahun oleh Tuhan. Jika saya sudah mengetahui takdir ini semenjak dahulu, dan kalau Tuhan memperlihatkan saya pilihan apakah saya mau dilahirkan ke dunia lagi untuk menjadi adik wanita abang saya, apakah saya akan bersedia mengulangi hidup ini lagi bersamanya?
Kamu sudah tahu jawabannya: iya.
Terlepas dari seburuk apapun takdir yang ada, dan betapa traumatisnya kehilangannya... saya bersyukur bisa mengenalnya dan menjadikannya bab dari hidup saya. Tragis, namun itu semua sepadan.
Saya kira, inilah yang kemudian juga menjadi jalan hidup yang dipilih Louise: mendapatkan takdirnya. Ia menyayangi anak perempuannya, ia juga menyayangi Ian, dan ia menentukan bahwa menyayangi keduanya akan berujung sesuatu yang luar biasa menyedihkan. But she embrace it.
Saya kira kita tidak perlu mempelajari bahasa alien ibarat Louise untuk bisa mengetahui masa depan. Setiap pertemuan akan ada perpisahan, setiap orang akan mati, dan kita akan kehilangan orang yang kita cintai. Entah kapan dan entah dengan cara apa. Kita semua tahu ini kan? Memilih untuk memiliki anak, bekerjsama kita sudah tahu bahwa suatu dikala kita akan berpisah dengannya. Bagi saya, ini yaitu hal paling depresif yang pernah ada dalam hidup. Louise mungkin punya beban hidup yang berat alasannya yaitu ia tahu kapan ia akan berpisah dengan anak perempuannya. Sementara kita, diberi anugerah untuk tidak tahu kapan kita akan berpisah dengan orang yang kita cintai. Ini menciptakan kita menjalani takdir sambil berharap Tuhan kasih kita keabadian selama-lamanya.
Saat kita sudah mengetahui takdir kita, baik dan buruk, kemudian apa yang bisa kita lakukan? Louise melakukannya dengan menyambut setiap momen kebersamaan yang ada. Mengetahui bahwa hidup ini yaitu serangkaian tragedi, tidak lantas hidup kita tidak bisa dinikmati. Dengan mengetahui kenyataan ini, maka kau akan bisa lebih mengapresiasi hal-hal yang sederhana dan remeh, bersama dengan orang yang kau cintai.
Saya dulu sering banget bertengkar dengan almarhum abang lelaki saya. Rebutan masakan lah, rebutan remote TV lah, murka alasannya yaitu dikentutin lah, dan lain sebagainya. Tapi sekarang saya rela membayar apapun untuk bisa mencicipi hal itu lagi. Saya bahkan murung alasannya yaitu ingatan saya tidak cukup bisa menampung setiap kenangan yang pernah ada.
Lalu ini yang dikatakan si Ian (Jeremy Renner) saat ditanya Louise (Amy Adams) dalam ending scene Arrival:
Dr. Louise Banks: If you could see your life from start to finish, would you change things?
Ian Donnelly: Maybe I would say what I felt more often. I don't know.Mungkin kalau saya bisa mengulang lagi hidup saya sesudah mengetahui semuanya, saya akan menyampaikan apa yang saya rasakan lebih sering lagi. Mungkin saya akan bilang "I love you" kepada orang yang saya cintai lebih sering lagi. Mungkin saya akan lebih sering memperlihatkan kasih saya. No regrets. Entahlah.
Jadi, menurutmu apakah Louise melaksanakan sesuatu yang benar?
Demikianlah Artikel Mempertanyakan Keputusan Louise (Amy Adams) Dalam Mendapatkan Takdirnya Di Film Arrival (2016)
Sekianlah artikel Mempertanyakan Keputusan Louise (Amy Adams) Dalam Mendapatkan Takdirnya Di Film Arrival (2016) kali ini, mudah-mudahan bisa memberi manfaat untuk anda semua. baiklah, sampai jumpa di postingan artikel lainnya.
Anda sekarang membaca artikel Mempertanyakan Keputusan Louise (Amy Adams) Dalam Mendapatkan Takdirnya Di Film Arrival (2016) dengan alamat link https://nurchocolatey.blogspot.com/2018/11/mempertanyakan-keputusan-louise-amy.html




0 Response to "Mempertanyakan Keputusan Louise (Amy Adams) Dalam Mendapatkan Takdirnya Di Film Arrival (2016)"
Post a Comment