The Master (2012) (4,5/5)
The Master (2012) (4,5/5) - Hallo sahabat nurchocolatey, Pada Artikel yang anda baca kali ini dengan judul The Master (2012) (4,5/5), kami telah mempersiapkan artikel ini dengan baik untuk anda baca dan ambil informasi didalamnya. mudah-mudahan isi postingan
Artikel 2012,
Artikel drama, yang kami tulis ini dapat anda pahami. baiklah, selamat membaca.
Judul : The Master (2012) (4,5/5)
link : The Master (2012) (4,5/5)
"If you figure a way to live without serving a master, any master, then let the rest of us know, will you? For you'd be the first person in the history of the world."
RottenTomatoes : 86% | IMDb: 7,1/10 | Metascore: 86/100 | NikenBicaraFilm: 4,5/5
Anda sekarang membaca artikel The Master (2012) (4,5/5) dengan alamat link https://nurchocolatey.blogspot.com/2019/01/the-master-2012-455.html
Judul : The Master (2012) (4,5/5)
link : The Master (2012) (4,5/5)
The Master (2012) (4,5/5)
"If you figure a way to live without serving a master, any master, then let the rest of us know, will you? For you'd be the first person in the history of the world."
RottenTomatoes : 86% | IMDb: 7,1/10 | Metascore: 86/100 | NikenBicaraFilm: 4,5/5
Rated : R | Genre : Drama
Directed by Paul Thomas Anderson ; Produced by JoAnne Sellar, Daniel Lupi, Paul Thomas Anderson, Megan Ellison ; Written by Paul Thomas Anderson ; Starring Joaquin Phoenix, Philip Seymour Hoffman, Amy Adams ; Music by Jonny Greenwood ; Cinematography Mihai Mălaimare Jr. ; Edited by Leslie Jones, Peter McNulty ; Production company JoAnne Sellar ; Productions Ghoulardi Film Company, Annapurna Pictures ; Distributed by The Weinstein Company ; Release date September 1, 2012 (VFF), September 14, 2012 (United States) ; Running time 137 minutes ; Country United States ; Language English ; Budget US$32 million
Story / Cerita / Sinopsis :
Freddie Quell (Joaquin Phoenix) gres kembali dari perang ketika kemudian ia bertemu pemimpin kelompok The Cause, Lancaster Dodd (Phillip Seymour Hoffman).
Review / Resensi :
Jika disuruh menyebutkan salah satu sutradara terbaik ketika ini, saya rasa banyak yang akan menyebutkan Paul Thomas Andeson (PTA) sebagai salah satunya. Sepanjang karirnya selama 20 tahun, PTA gres menghasilkan 8 film - bukan jumlah yang relatif banyak, tapi hampir semuanya disukai kritikus. Walaupun begitu, buat saya sendiri film-film PTA terlalu "advance" untuk benar-benar sanggup saya pahami dengan level otak saya yang begini. Saya tidak pernah terlalu memfavoritkan doi, daftar sutradara favorit saya masih sebatas Coen Brothers, Jason Reitman, Noah Baumbach, Wes Anderson dan Quentin Tarantino. Mereka artsy dan critically-acclaimed director juga, tapi at least saya masih paham dan sanggup menikmati nonton film-film mereka. Tapi jikalau disuruh milih antara PTA atau Terrence Malick dan David Lynch, saya terang lebih menentukan PTA. Saya nyerah jikalau disuruh nonton film The Tree of Life!
The Master adalah film keempat doi yang saya tonton setelah Punch Drunk Love (2002), There will be Blood (2007) dan Magnolia (1999). Kesan yang saya dapatkan sehabis menonton ini adalah... nggak mudheng. Saya paham sih The Master yaitu film yang begitu indah, artistik dan filosofis. Tapi secara keseluruhan, saya sulit untuk menangkap apa yang sebetulnya hendak disampaikan PTA lewat film ini. Dan keluhan saya ini juga jadi salah satu keluhan yang diungkapkan para kritikus dunia lainnya, dan terutama... penonton awam yang tentu akan malas sekali menonton film-film model mikir. Kalau kau cari hiburan lewat film, The Master jelas bukan salah satunya. Tapi jikalau kau cari film yang rada filosofis dengan studi abjad yang baik, maka The Master yaitu salah satu rekomendasi film yang tepat.
Saya awalnya ga berencana untuk bikin ulasan film ini alasannya yaitu ga mudeng. But then again... sehabis nonton film ini saya jadi kepikiran terus. Ini model film yang kau harus nonton lebih dari satu kali untuk sanggup paham detail-detail kecil yang tampak "tidak penting" tapi sebetulnya menjadi unsur signifikan yang menyusun puzzlenya. Cuma saya uda ngebayangin bakal males dan berat banget jikalau saya disuruh menghabiskan dua jam lebih untuk nonton ulang.... walaupun, pada kesudahannya tetap saya lakukan juga..... *Haha. Biarpun tetap saja ada beberapa scene yang saya lompati. Dan beneran, menonton film ini untuk kedua kalinya bikin saya jadi lebih sensitif dan peka untuk menangkap apa yang sebetulnya hendak disampaikan oleh PTA. Lalu apakah saya kesudahannya paham? Ya nggak juga. HAHAHA. Tapi ijinkan saya mengungkapkan opini saya perihal analisis The Master lewat artikel berikutnya ya.
(Anyway, sutradara model PTA, Stanley Kubrick, atau David Lynch, gini agak nyebelin ga sih? Mungkin mereka bikin film yang sebetulnya jelek, tapi atas nama seni dan kita tahu mereka sebetulnya sutradara jenius, maka film yang buruk tadi tiba-tiba dianalisa dan diinterpretasi sedemikian rupa sehingga kesudahannya keliatan sebagai masterpiece. Ya ga sih.)
Sebenarnya yang menciptakan film ini terasa berat dan membingungkan yaitu alasannya yaitu PTA mengambil adegan demi adegan yang sifatnya menyerupai sekedar potongan-potongan cerita. Antara satu adegan dan adegan lainnya menyerupai tidak dalam alur narasi yang hubungannya praktis untuk dicerna. Belum lagi alurnya yang cenderung pelan dan agak membosankan. Untuk memahami filmnya, kau juga harus peka terhadap dialog, gestur, dan lisan yang diungkapkan oleh karakter-karakternya. Belum lagi ketika PTA juga menyisipkan adegan-adegan berupa mimpi dan nostalgia, yang menciptakan kita agak susah paham juga mana yang beneran mana yang mimpi. PTA tidak pernah terlalu eksplisit dalam membuktikan maksudnya, secara implisit ia hanya memberikan maksudnya lewat bagaimana ia mengambil gambar, kepingan dialog, lisan para karakter, dan lagu yang dimainkan.
Biarpun mengambil tema perihal cult The Cause yang kerap disamakan dengan Scientology (karena emang ada miripnya, menyerupai metode mereka serta setting film ini pada tahun 1950-an yang juga menjadi tahun bermulanya Scientology yang dibuat oleh L. Ron Hubbard), bagi saya eksklusif film ini sendiri sifatnya lebih ke studi perkembangan abjad sang tokoh utama, mantan tentara Freddie Quell (Joaquin Phoenix). Freddie Quell yaitu kepribadian yang tidak stabil: ia tidak sanggup mengontrol emosinya, alkoholik, dan putus asa secara seksual. Dalam pencariannya menuju kestabilan hidup dan mencari tujuan hidup lagi sehabis pulang perang, ia kemudian bertemu Lancaster Dodd (Phillip Seymour Hoffman), seorang pemimpin sebuah sekte The Cause. Relasi yang unik kemudian terbentuk di antara keduanya.
Freddie Quell adalah abjad yang sama menariknya dengan Daniel Plainview di There Will Be Blood. Kayaknya PTA memang punya kekerabatan khusus deh dengan karakter-karakter "sakit" semacam ini. And God.... akting Joaquin Phoenix sangat luar biasa. Senyumnya, sorot matanya, gaya bicaranya, hingga gestur tubuhnya. Improvisasinya ketika adegan di dalam penjara ketika ia menghancurkan toilet yaitu bukti gimana gilanya Joaquin Phoenix menjiwai karakternya. Phillip Seymour Hoffman juga tepat dalam memerankan Lancaster Dodd yang begitu karismatik dan menyenangkan ketika sedang "ceramah", namun sbenarnya juga punya problem yang sama dalam mengontrol emosi dengan Freddie. Duet keduanya dalam sequence long take ketika Freddie diwawancarai oleh Lancaster dan adegan dalam penjara itu sangat intens dan menarik. One of the best sequence I've ever saw. Oh ya, dan film ini juga punya Amy Adams yang biarpun karakternya tidak terlalu dieksplor, namun sekedar melalui sorot mata dan lisan wajahnya memang sudah layak membuatnya meraih nominasi Oscar. Ketiga cast ini memang sangat luar biasa dan menjadi nyawa film ini.
Selain itu, yang paling saya suka dari film ini juga yaitu betapa cantiknya setiap gambar yang diambil. Saya sebetulnya sudah merinding banget waktu awal nonton trailernya, begitu manis dan mempesona... Biarpun pada kesudahannya saya nunda usang banget untuk nonton film ini alasannya yaitu tahu jikalau ini film bakal bikin kepala saya pusing. Film ini makin Istimewa alasannya yaitu PTA memakai kamera Panavision 70 mm (dan sejujurnya saya ga tahu ini jenis kamera apaan), dimana katanya selama 16 tahun tidak ada yang memakai jenis kamera ini lagi. Belakangan, Quentin Tarantino lewat The Hateful Eight (2015) dan Christoper Nolan lewat Dunkirk (2017) memakai pilihan kamera yang sama. Saya juga suka teknik long take yang dipilih PTA, dan sinematografi yang luar biasa cantiknya dari Mihai Malaimare Jr. Lalu semuanya makin menjadi kesempurnaan artistik dengan iringan musik dari Johnny Greenwood, si jenius gitaris Radiohead yang emang sering berafiliasi dengan PTA (dan ngomong-ngomong, beberapa video klip terbaru Radiohead juga disyuting oleh PTA).
Overview :
Mungkin bukan karya terbaik dari PTA dan sedikit underrated pada tahunnya, namun atas nama seni, The Master adalah sebuah film yang begitu indah dan mengesankan. Sinematografinya manis dan menawan sekali di mata, dalam tone gelap yang sedikit dark-depresif ala PTA, dengan iringan musik juara dari Johnny Greenwood. Saya suka bagaimana PTA selalu punya tokoh-tokoh dengan abjad menarik dalam setiap filmnya, dan The Master adalah salah satunya. Syukurlah ketiga cast utama bermain dengan sangat baik: Phillip Seymour Hoffman, Amy Adams, dan terutama Joaquin Phoenix yang absurd banget aktingnya di sini. Mungkin ceritanya sedikit membingungkan karena PTA tidak pernah terlalu eksplisit memberikan maksudnya, but hell yeah sure it's one of the 21st century movie you must see.
Demikianlah Artikel The Master (2012) (4,5/5)
Sekianlah artikel The Master (2012) (4,5/5) kali ini, mudah-mudahan bisa memberi manfaat untuk anda semua. baiklah, sampai jumpa di postingan artikel lainnya.
Anda sekarang membaca artikel The Master (2012) (4,5/5) dengan alamat link https://nurchocolatey.blogspot.com/2019/01/the-master-2012-455.html

0 Response to "The Master (2012) (4,5/5)"
Post a Comment