Analisis & Klarifikasi Burning (버닝) (Korea, 2018)
Analisis & Klarifikasi Burning (버닝) (Korea, 2018) - Hallo sahabat nurchocolatey, Pada Artikel yang anda baca kali ini dengan judul Analisis & Klarifikasi Burning (버닝) (Korea, 2018), kami telah mempersiapkan artikel ini dengan baik untuk anda baca dan ambil informasi didalamnya. mudah-mudahan isi postingan
Artikel 2018,
Artikel drama,
Artikel korea,
Artikel movie explanations,
Artikel mystery and suspense, yang kami tulis ini dapat anda pahami. baiklah, selamat membaca.
Judul : Analisis & Klarifikasi Burning (버닝) (Korea, 2018)
link : Analisis & Klarifikasi Burning (버닝) (Korea, 2018)
Anda sekarang membaca artikel Analisis & Klarifikasi Burning (버닝) (Korea, 2018) dengan alamat link https://nurchocolatey.blogspot.com/2018/08/analisis-klarifikasi-burning-korea-2018.html
Judul : Analisis & Klarifikasi Burning (버닝) (Korea, 2018)
link : Analisis & Klarifikasi Burning (버닝) (Korea, 2018)
Analisis & Klarifikasi Burning (버닝) (Korea, 2018)
Burning adalah salah satu film yang paling banyak dibicarakan final tahun lalu, tapi saya gres saja menontonnya. Telat? Oh tentu. Bukan NikenBicaraFilm kalau tidak telat nonton dan mereview... hahaha (mungkin saya harus mengakibatkan ini sebagai tagline blog ini: NikenBicaraFilm, selalu terlambat dalam mereview film). Selepas menontonnya, saya memahami kenapa begitu banyak orang yang membicarakannya. Terlepas dari filmnya yang meraih banyak penghargaan dan untuk pertama kalinya mengantarkan Korea Selatan lolos masuk shortlist sembilan besar Best Foreign Film di ajang Oscar tahun 2019, Burning menjadi film yang banyak dibicarakan alasannya filmya yang ambigu dan membutuhkan diskusi atau semacam "refleksi" selepas menontonnya. Beberapa pembaca blog ini juga banyak yang menyarankan saya untuk membahas film ini dari lama, tapi saya gres mengabulkannya kini
Burning merupakan pembiasaan bebas dari cerpen Haruki Murakami yang berjudul Barn Burning, dan Lee Chang-dong, sang sutradara, disebut-sebut berhasil dengan baik mengadaptasi goresan pena Murakami dalam bahasa visual. Saya bukan pembaca novel Murakami - gres satu bukunya yang sudah saya baca, tapi kurang lebih dari satu buku itu saya bisa sedikit ngebaca tipe goresan pena Murakami. Sejujurnya, membaca novel Murakami (yang gres satu judul aja itu), nyaris terasa membosankan dan nggak terang (oh ya silakan hina saya yang hanya pembaca awam). Tapi kenapa Burning disebut-sebut berhasil menghidupkan karya Murakami, alasannya berdasarkan saya Lee Chang-dong bisa "menghidupkan" keabsurdan dan ambiguitas karya Murakami dalam medium film. Ini bukan hal yang mudah, alasannya segala "keabsurdan" dalam sebuah karya fiksi menjadi asing kalau diterjemahkan dalam bahasa film yang realis. Selain itu, lewat caranya memainkan narasi Burning melalui apa yang biasa kita sebut "film-thriller-yang-lambat-dan-membosankan" (atau kau biasa menyebutnya slow-burn), Lee Chang-dong juga sangat berhasil dalam memperlihatkan nuansa yang sama menyerupai kala kita membaca karya Murakami.
Kisah Burning mengikuti seorang calon penulis yang bekerja sebagai kurir, Jong Su (Yoo Ah-In) yang suatu ketika bertemu dengan perempuan anggun yang ceria dan menyenangkan - dan ternyata mitra dari masa kecilnya, Hae-mi (Jeon Jong-Seo). Hae-mi hendak berlibur ke Afrika dan ia meminta Jong-su untuk memberi makan kucingnya di apartemennya. Sepulang dari Afrika, Hae-mi mengenalkan Jong-su dengan Ben (Steven Yeun), seorang cowok yang berbeda 180 derajat dengan dirinya: ganteng dan kaya raya. Jong-su tidak tahu apa kekerabatan Ben dengan Hae-mi, sebagaimana ia tidak tahu hubungannya sendiri dengan Hae-mi (mereka sudah have sex, tapi tidak pernah secara langsung menjadi sepasang kekasih). Suatu saat, Ben bercerita pada Jong-su bahwa ia punya hobi yang aneh: memperabukan green house. Ia bilang ia hanya menentukan green house terlantar, yang menurutnya "menunggunya" untuk dibakar. Ben sendiri bilang bahwa ia telah menentukan sasaran green house di erat rumah Ben. Hal ini cukup asing bagi seorang laki-laki yang normal dan tinggal di Gangnam, dan Jong-su menyidik dan mencatat green house terlantar di erat rumahnya, tapi tidak ada yang terbakar. Keanehan pun makin bertambah ketika Hae-mi tiba-tiba menghilang tanpa penjelasan. Ini menciptakan Jong-su mewaspadai ada "sesuatu" pada Ben dan membuntutinya. Film pun berakhir dengan Jong-sung menusuk Ben dengan pisau dan memperabukan mobilnya....
Jadi, apa sesungguhnya yang terjadi?
Saya bayangkan kamu, sebagaimana saya, akan mengerutkan kening kebingungan selepas menonton Burning. Penonton awam mungkin akan sedikit murka dan merasa dibodohi alasannya merasa tidak seharusnya film itu berakhir begitu saja tanpa sebuah penjelasan.
Sebenarnya, Burning bisa saja menjadi straightforward-thriller, tapi memang alurnya dengan sengaja tidak dibentuk "selurus" dan "semudah" itu. Ada banyak teori yang mungkin berkecamuk di otakmu sehabis film ini berakhir. Apakah Ben beneran serial killer / psikopat yang membunuh Hae-mi? Apakah Hae-mi bunuh diri? Apakah Hae-mi kabur dan Ben membantunya? Apakah Jong-su menusuk Ben di final film cuma khayalan Jong-su saja? Apakah semua ini cuma khayalan Jong-su?
Dan kalau kau sudah menyimpulkan sesuatu, maka pertanyaan-pertanyaan yang muncul kemudian juga membutuhkan jawaban yang sama tidak jelasnya. Apakah kucing di rumah Ben yaitu kucing Hae-mi? Apa yang dimaksud Ben dengan hobinya memperabukan greenhouse? Apakah itu sekedar metafor? Apakah sumur yang diceritakan Hae-mi benar-benar ada? Kenapa ada jam tangan Hae-mi di rumah Ben - sementara jam tangan yang sama sepertinya dikenakan sobat kerja Hae-mi? Dan lain sebagainya
Untuk menjawab pertanyaan perihal apa yang bekerjsama terjadi, saya bisa menjawab dengan niscaya bahwa saya tidak tahu pasti. Melalui Burning, Lee Chang-dong sepertinya ingin memperlihatkan bahwa hidup yaitu sebuah misteri (ingat ketika Jong-su bilang bahwa baginya dunia yaitu misteri?), dan kita mungkin tidak punya kuasa untuk menyingkap segala sesuatunya. Sepanjang film Burning, kita diberi petunjuk-petunjuk perihal apa yang bekerjsama terjadi, tapi kita tidak diberikan bukti valid yang sungguh mengonfirmasi hipotesis kita. Ben bisa saja seorang serial killer, atau bisa saja Ben cuma seorang laki-laki kaya biasa yang hobi memperabukan greenhouse (atau ia bisa saja berbohong perihal ini). Hae-mi bisa saja dibunuh Ben, atau mungkin ia bunuh diri, atau ia kabur melarikan diri alasannya hutang yang ia tanggung. Hmmm... kita tidak benar-benar tahu alasannya Lee Chang-dong memang dengan sengaja menciptakan seluruh petunjuk itu ambigu. Semakin menarik, bahwa ia juga mengakibatkan Jong-su sebagai protagonis dimana seluruh perspektif kita didasarkan olehnya, bukanlah seorang saksi mata yang ekspresif, sehingga kita bahkan sulit untuk mendapat kesimpulan dari semua tindakannya atau apa yang bekerjsama ia pikirkan.
Dunia itu yaitu sebuah misteri, dan perspektif dalam menguraikan misteri itu yang menciptakan kita "merasa benar". Dalam Burning, ketika Jong-su menusuk Ben, ia telah membangun perspektif yang ia percayai benar. Ia telah membaca petunjuk yang ia temukan, merangkainya, kemudian tetapkan "kebenaran" yang menjelaskan misteri perihal apa yang bekerjsama terjadi. Terlepas dari entah apakah ia benar atau tidak.
Yang menarik juga untuk dibahas dari Burning adalah studi perihal ketiga abjad utamanya. Sebagian orang akan menyebut Burning sebagai sebuah cinta segitiga dengan tiga insan yang berbeda di dalamnya. Jong-su mungkin mewakili sebagian besar dari kita (kebanyakan dari kita lebih suka menilai diri kita sebagai orang yang bernasib malang daripada orang yang beruntung). Ia tidak punya uang, tinggal di tempat desa yang miskin, keluarganya bermasalah (ayahnya punya anger management issue dan terancam dipenjara), ibunya meninggalkannya, dan ia tidak benar-benar tahu atau cukup percaya diri dengan apa yang harus ia lakukan dalam hidupnya.
Di satu sisi Ben mewakili sosok tepat yang berkebalikan dari Jongsu: ia tinggal di distrik orang kaya, mobilnya porsche, ia tampak kharismatik, ber-DNA bagus, pintar memasak, punya banyak teman, walau kita tidak benar-benar tahu apa pekerjaannya sehingga bisa sekaya itu. Dalam salah satu obrolan ketika Jong-su menanyakan pekerjaannya, Ben bilang kalau ia "bermain"/"play". Saya pikir ini merujuk ke privilege bawah umur orang kaya, yang bisa mengejar passion & hobinya ("play") namun tetap bisa hidup makmur dan sejahtera. Oh ya, mengejar passion yaitu harapan anak orang berkecukupan yang tidak punya tanggung jawab memikirkan ekonomi keluarganya, dan punya jaring pengaman jikalau passionnya pada balasannya tidak mencukupi hidupnya.
Sementara itu, ada sosok Hae-mi. Hidupnya bekerjsama sama sengsaranya dengan Jong-su, namun ia satu-satunya dari ketiga abjad film ini yang mengejar sesuatu yang lain: Great Hunger. Ia satu-satunya abjad yang tengah mencari makna hidup (eksistensialisme). Ia pergi ke Afrika, menyaksikan matahari terbenam, dan merasa murung dan terbebani dengan keberadaan diri. Di Paju ketika bersama Jong-su dan Ben, ia melihat matahari terbenam lagi, ia melepaskan bajunya seraya menari dengan lepas. Bagi Hae-mi, ini yaitu ekspresi kebebasan dirinya. Namun sayangnya ia terjebak pada persaingan maskulinitas Jong-su dan Ben, sehingga bagi Jong-su, Hae-mi yang menari dengan bebas sambil melepas baju di depan laki-laki tak lebih dari seorang "pelacur". Hae-mi yaitu seorang subyek, namun di tengah persaingan Jong-su vs Ben, dirinya sekedar obyek yang diperebutkan keduanya.
Dalam banyak interviewnya, Lee Chang-dong berulang kali mengungkapkan bahwa baginya film Burning yaitu sebuah metafora akan rage (kemarahan). Setidaknya, itu yang ia tangkap dari cerpen Murakami, atau kisah berjudul sama (Barn Burning) karangan William Faulkner yang menginspirasi Murakami. Lee Chang-dong merasa bahwa dunia bisa jadi makin sophisticated dan makin nyaman, namun di balik itu semua bekerjsama ada ketidakberesan, dan semua orang menyadarinya. Semua orang menyimpan amarah dalam dirinya, entah alasannya problem agama, kelas, atau kultur - dan berdasarkan Lee Chang-dong ini merupakan sebuah fenomena universal.
Lee Chang-dong sendiri sepertinya menyimbolkan kemarahan itu berkulminasi pada diri Jong-su. Dunia yaitu misteri dan kita tidak benar-benar tahu bagaimana dunia ini bekerja (contohnya bahwa begitu banyak pengangguran atau bahwa Donald Trump bisa terpilih sebagai presiden Amerika Serikat). Mungkin kita berusaha mereka-reka perihal apa yang sesungguhnya terjadi, dan kenapa, tapi kita tidak akan benar-benar bisa tahu dan seluruh misteri ini menciptakan kita frustasi. Jong-su menyimbolkan itu: ia yaitu cowok bernasib sial dalam dunia kapitalistik menyerupai ketika ini. Di sisi lain kita melihat Ben sebagai simbol kapitalis yang nyaris mempunyai segalanya: mulai dari rumah mewah, kendaraan beroda empat mahal, ketampanan, sampai kepercayaan diri (dalam banyak kesempatan ia seperti berpikir dirinya Tuhan)...
Sepanjang film kita mungkin akan dibentuk bertanya-tanya perihal siapa Ben sebenarnya. Namun, pada ketika akhir, ketika Jong-su menusuk Ben sampai mampus, kita akan mempertanyakan hal yang berbeda: siapa Jong-su sebenarnya? Apakah ia yaitu orang yang menyimpan amarah dan tidak punya kendali menguasai amarahnya menyerupai ayahnya?
Tapi... ngomong-ngomong, saya sendiri bekerjsama kesulitan menghubungkan metafora di atas dengan keseluruhan film Burning (atau saya aja yang ga bisa menangkap itu). Saya lebih menangkap maksud Burning sebagai sebuah film thriller yang ambigu.
Lee Chang-dong sendiri sepertinya menyimbolkan kemarahan itu berkulminasi pada diri Jong-su. Dunia yaitu misteri dan kita tidak benar-benar tahu bagaimana dunia ini bekerja (contohnya bahwa begitu banyak pengangguran atau bahwa Donald Trump bisa terpilih sebagai presiden Amerika Serikat). Mungkin kita berusaha mereka-reka perihal apa yang sesungguhnya terjadi, dan kenapa, tapi kita tidak akan benar-benar bisa tahu dan seluruh misteri ini menciptakan kita frustasi. Jong-su menyimbolkan itu: ia yaitu cowok bernasib sial dalam dunia kapitalistik menyerupai ketika ini. Di sisi lain kita melihat Ben sebagai simbol kapitalis yang nyaris mempunyai segalanya: mulai dari rumah mewah, kendaraan beroda empat mahal, ketampanan, sampai kepercayaan diri (dalam banyak kesempatan ia seperti berpikir dirinya Tuhan)...
Sepanjang film kita mungkin akan dibentuk bertanya-tanya perihal siapa Ben sebenarnya. Namun, pada ketika akhir, ketika Jong-su menusuk Ben sampai mampus, kita akan mempertanyakan hal yang berbeda: siapa Jong-su sebenarnya? Apakah ia yaitu orang yang menyimpan amarah dan tidak punya kendali menguasai amarahnya menyerupai ayahnya?
Tapi... ngomong-ngomong, saya sendiri bekerjsama kesulitan menghubungkan metafora di atas dengan keseluruhan film Burning (atau saya aja yang ga bisa menangkap itu). Saya lebih menangkap maksud Burning sebagai sebuah film thriller yang ambigu.
MY THEORY
Mengenai apa yang bekerjsama terjadi di film Burning, saya punya teori sendiri. Pertama, perihal apakah Ben yaitu psikopat atau bukan, saya tidak tahu pasti, dan berdasarkan saya bukan itu inti film ini. Saya merasa keindahan film ini yaitu misterinya itu sendiri, bukan jawaban misteri itu. Kita memang disuguhi beberapa fakta yang mendukung teori Ben yaitu seorang serial killer: ia tidak pernah menangis (ciri psikopat), ia punya hobi memperabukan green house terlantar (dan green house terlantar ini bisa jadi yaitu sebuah metafora untuk orang yang tidak berguna), ia punya koleksi aksesoris perempuan di dalam kamar mandinya ( mungkin itu yaitu "souvenir" dari korban yang dibunuhnya), dan tiba-tiba saya ia punya kucing yang tiba ketika dipanggil Boil (nama kucing Hae-mi). Tapi semua fakta itu yaitu bukti samar yang lemah. Ia bisa saja berbohong ketika bilang ia tidak pernah menangis (biar dibilang macho), ia bisa saja cuma punya hobi ngebakar green house (dan green house bukanlah metafor), koleksi pelengkap perempuan di dalam kamar mandinya bisa saja cuma barang ketinggalan dari cewek-cewek yang dikencaninya (atau ia klepto), dan kucing yang dipeliharanya belum tentu kucing Hae-mi (toh Jong-su tidak pernah melihat kucing Hae-mi, dan agak asing ketika dipanggil Boil ketika di kamar Hae-mi kucing itu tidak nongol). Jadi, saya lebih suka mengambil kesimpulan bahwa Ben, tetaplah misteri.
Namun, Jong-su telah mengambil kesimpulannya sendiri ketika ia menusuk Ben. Jong-su, yaitu seorang penulis yang sebelumnya tidak tahu harus menulis apa. Sebagai penulis ia punya kepekaan untuk mengamati hal-hal menarik di sekitarnya, dan salah satu misteri di matanya yaitu Ben. Maka, sepertinya perlahan ia menyimpulkan bahwa Ben yaitu seorang pembunuh yang membunuh Hae-mi. Tapi berikutnya yang menarik untuk dibahas... apakah insiden penusukan ini benar atau cuma terjadi di kepala Jong-su? Nah, berdasarkan saya ini cuma terjadi di kepala Jong-su.
Perhatikan sebelum adegan Jong-su menusuk Ben, tampak Jong-su sedang mengetik sesuatu di laptopnya di kamar Hae-mi. Mungkin ia balasannya mempunyai materi kisah untuk tulisannya. Lalu perlahan kamera menyorot adegan ini dari luar jendela kamar Hae-mi, kemudian kamera bergerak menjauh pelan-pelan memperlihatkan gedung apartemen Hae-mi. Dan untuk pertama kalinya sepanjang film, kamera menyorot adegan dimana Jong-su tidak ada di dalamnya: ketika Ben bercermin di kamar mandi, memasang contact lens, mengambil kotak rias kemudian merias seorang perempuan anggun dan tiba-tiba handphone-nya berdering. Menurut saya adegan ini asing alasannya sepanjang film kita selalu mengikuti Jong-su kemana saja ia pergi. Saya pun menyimpulkan bahwa adegan ini hanyalah adegan di kepala Jong-su, termasuk adegan berikutnya kala ia menusuk Ben... Maka mungkin ini yaitu sekedar bab dari final kisah yang ia tulis.
...
Gimana menurutmu? Apakah kau punya teori tersendiri?
...
Gimana menurutmu? Apakah kau punya teori tersendiri?
Demikianlah Artikel Analisis & Klarifikasi Burning (버닝) (Korea, 2018)
Sekianlah artikel Analisis & Klarifikasi Burning (버닝) (Korea, 2018) kali ini, mudah-mudahan bisa memberi manfaat untuk anda semua. baiklah, sampai jumpa di postingan artikel lainnya.
Anda sekarang membaca artikel Analisis & Klarifikasi Burning (버닝) (Korea, 2018) dengan alamat link https://nurchocolatey.blogspot.com/2018/08/analisis-klarifikasi-burning-korea-2018.html





0 Response to "Analisis & Klarifikasi Burning (버닝) (Korea, 2018)"
Post a Comment